BACA JUGA : Geger, Warga Lumajang Temukan Sembilan Tulang Manusia di Sungai
Nur Ana, salah satu pedagang daging ayam di Pasar Sukodono, mengaku tidak mengambil daging dalam jumlah banyak dari peternak. Hal itu untuk mengantisipasi kerugian yang ditimbulkan. Sebab, beberapa hari terakhir pembeli daging tidak banyak.
"Yang beli menurun. Kalau menyediakan stok banyak, khawatir tidak laku. Padahal, daging ayam harus segar agar dagingnya enak dikonsumsi," ungkapnya.
Menurutnya, ada banyak faktor yang menyebabkan harga daging ayam masih mahal. Paling utama adalah harga pakan ternak yang tinggi. Sehingga berimbas pada harga jual daging ayam di pasar.
"Dari sana (peternak, Red) bilang harga pakannya mahal. Makanya, harga dagingnya ikut mahal juga" katanya. Harga ini, lanjutnya, bertahan lebih dari sepekan. Padahal, sebelumnya harga daging ayam di bawah Rp 30 ribu.
"Harganya bisa cepat berubah-ubah. Mendekati hari raya dan sepekan setelahnya itu mahal. Terus normal di kisaran Rp 28 ribu sampai Rp 32 ribu. Sekarang, harganya tidak menentu," jelasnya.
Sementara itu, Rizkiyah, pedagang daging ayam di Pasar Lumajang Baru, menambahkan, harga pakan yang mahal itu membuat banyak peternak ayam mengeluh. Sebab, pemberian pakan jadi tak maksimal. Dampaknya, produksi ayam menurun. Sebagian juga tidak layak untuk dijual.
"Jadi, ambil yang bagus saja. Kalau pembeli, ya, hampir sama. Tapi, jumlah daging yang dibeli tidak banyak," terangnya.
Dia berharap pemerintah hadir melihat kondisi harga daging di pasar. Sehingga ada upaya untuk menurunkan harga daging ayam. "Mudah-mudahan harganya (daging ayam, Red) tidak bertahan lama," harapnya.(kin/c2/fid) Editor : Safitri