BACA JUGA : Air Kelapa Bukan Pengganti Cairan Tubuh Mutlak
Wisatawan lokal cukup membayar Rp 10 ribu per orang. Sementara, wisatawan asing (mancanegara) tiketnya hanya Rp 20 ribu. Memang sangat murah. Sebab, tiket yang dibeli itu tidak termasuk asuransi. Padahal asuransi menjadi hal wajib sebagai bagian dari wisata. Praktis, jika terjadi kecelakaan saat wisata, asuransi tidak bisa mengaver.
Tak hanya di Tumpak Sewu, hampir seluruh wisata di Lumajang tidak mencakup asuransi dalam harga tiket. “Ini jadi evaluasi. Dan ini masih kami proses agar ke depan pengelolaannya lebih baik lagi,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Lumajang Yuli Harismawati.
Yuli menjelaskan, hampir seluruh pengelola wisata saat ini fokus pada mass tourism atau pariwisata masal. Ini merupakan wisata dalam jumlah yang besar, ditinjau dari aspek wisatawan. Artinya, kuantitas kedatangan wisatawan lebih diutamakan. Lebih lanjut, mass tourism ini erat dengan harga tiket yang murah.
“Sementara, masih fokus mass tourism. Jadi, targetnya kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya dengan harga tiket murah. Nanti, kami akan mengumpulkan para pengelola wisata. Kami akan rumuskan lagi SOP-nya. Termasuk harga tiket itu sudah termasuk asuransi dan jaminan keselamatannya,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Lumajang Thoriqul Haq menegaskan, pemkab bakal mengevaluasi seluruh pengelolaan wisata. Pihaknya tidak ingin insiden serupa kembali terjadi. Terutama asuransi yang tidak terkaver dalam pembelian tiket wisata.
“Iya, asuransi jadi evaluasi bagi kami. Wisata yang ekstrem dan berisiko tinggi harusnya ada asuransi (pada tiketnya, Red). Seperti pendakian Gunung Semeru. Tiketnya dikelola TNBTS sekaligus asuransinya,” terang Cak Thoriq.
Pascakejadian itu, lanjut Cak Thoriq, pemerintah membuka semua saran dan masukan. Khususnya wisata minat khusus seperti Tumpak Sewu. Sebab, minat wisatawan lokal maupun mancanegara ke wisata itu sangat tinggi. (kin/c2/fid) Editor : Safitri