Ini seperti di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jogoyudan sebelum Lebaran kemarin. Warga yang berasal dari beberapa kelurahan di Kecamatan Lumajang Kota bergantian mendatangi makam. Tak lain, mereka hendak melakukan ziarah kubur.
Ziarah kubur yang dilakukan tidak sekadar mendoakan anggota keluarga mereka yang telah tiada. Melainkan juga membersihkan makam. Ini merupakan tradisi turun-temurun yang tetap terjaga hingga saat ini.
Sebenarnya nyekar bisa dilakukan kapan saja. Namun, biasanya ini dilakukan saat menjelang Ramadan atau Hari Raya Idul Fitri. Termasuk sesudahnya. Ketika ingin berziarah, biasanya mereka mengajak sanak keluarga untuk ikut serta.
“Ini saya ajak istri, anak, dan cucu ke makam, (nyekar, Red) rutin setiap tahun,” ujar salah satu warga, Yuliantono. Biasanya, dia rutin datang ke makam saat Jumat Legi. Akan tetapi, hal itu lebih sering dilakukan sendiri. Hanya saja, ketika momentum seperti ini, dirinya mengajak seluruh keluarganya. “Ya, mendoakan dan bersih-bersih makam,” tambahnya.
Sementara itu, Candra, warga lainnya, menyebut, ziarah kubur atau nyekar menjadi momentum pengingat diri. Dia meyakini, kematian itu pasti. Akan tetapi, tidak ada yang tahu kapan waktu kematian itu akan datang.
Oleh karena itu, salah satu hal yang menjadi sarana pengingat adalah dengan ziarah kubur. “Mengingat kebaikan anggota keluarga yang sudah meninggal,” ujarnya. Menurutnya, momentum ini akan membuat pribadi lebih baik lagi ke depannya.
Candra menjelaskan, setiap ada momen seperti ini, warga memang memadati TPU. Apalagi jika Lebaran hanya kurang sehari maupun pasca-Lebaran. “Sudah pasti ramai. Warga datang, membersihkan makam, menabur bunga dan mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal,” pungkasnya. (kin/c2/fid) Editor : Maulana Ijal