BACA JUGA : Drum Band Jember Wakili Jatim di Pra PON
Taman ini terletak di selatan Taman Hutan Kota Lumajang, Kelurahan Kepuharjo, Kecamatan Lumajang. Saat pagi hingga sore hari, taman ini lengang. Hampir tidak ada aktivitas masyarakat. Namun, setelah pukul 16.00, taman itu baru terasa hidup.
“Biasanya ramai menjelang Magrib sampai jam 9 malam,” kata Nawa, salah satu pedagang di dekat Taman Artagama. Menurutnya, sejak dibuka, masyarakat lebih memilih datang saat sore hingga malam hari.
Hal itu, lanjutnya, karena taman belum memiliki pohon peneduh. Sehingga saat pagi sampai sore, terik matahari langsung terasa. Begitu juga saat hujan, tidak banyak tempat untuk berteduh. Sementara, saat malam hari, pencahayaan taman masih kurang memadai.
Sepinya pengunjung juga berdampak pada penghasilan pedagang. Meski sudah disediakan kios bagi pedagang di sisi timur taman, hal itu juga belum menarik minat masyarakat untuk masuk dan menikmati taman.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Agus Rokhman Rozaq menjelaskan, taman itu dibangun di lahan bekas Pasar Artagama. Harapannya kawasan ini tidak lagi sepi seperti sebelumnya. Oleh karena itu, taman dikonsep seperti ruang terbuka hijau (RTH) yang cocok bagi keluarga.
“Nanti banyak tanaman hias untuk memperindah kawasan kota lewat taman. Jadi, taman ini cocok untuk tempat santai, terutama untuk rekreasi keluarga. Kami juga sudah sediakan kios PKL bagi masyarakat yang ingin berjualan kuliner,” jelasnya.
Rozaq menambahkan, rencananya Taman Artagama bakal digabung dengan taman hutan kota menjadi satu. Pembatas bagian tengah akan dihilangkan. “Pengelolaan taman juga jadi satu. Nanti, kami akan sempurnakan fasilitas yang ada. Termasuk penerangan maupun pohon peneduhnya,” pungkasnya. (kin/c2/fid)
Editor : Safitri