BACA JUGA : Tiga Pengacara Kompak Mundur Jadi Penasihat Hukum Kiai Fahim
Informasinya, paginya sekitar pukul 07.00 pasukan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Lumajang langsung ditarik. Sehingga proses penjemputan dilakukan oleh Perhutani Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Klakah. Sekitar pukul 13.00, mereka akhirnya bisa bertemu keluarganya di area Makam Mbah Citro.
Asisten Perhutani (Asper) BPKPH Klakah Aries Soegiharto menjelaskan, pada malam harinya TRC BPBD Lumajang mendapati sekelompok pendaki itu sedang beraktivitas layaknya berkemah. Sehingga, keesokan harinya pencarian dihentikan dan dilanjutkan oleh tim Perhutani. Satu tim dari tiga unsur langsung menjemput.
“Alasannya (BPBD Lumajang, Red) itu karena mereka melihat itu beraktivitas seperti biasa. Sehingga paginya proses pencariannya berhenti. Padahal itu mereka sudah keluar dari jalur utama. Makanya kami lanjutkan untuk menjemput, pagi kita berangkat, mungkin sekitar 11.00 ketemu dan langsung turun,” katanya.
Setelah ditelusuri, keenam pendaki itu rupanya tidak izin kepada orang tuanya. Mulanya mereka beralasan melakukan study tour di Surabaya. Tetapi, nyatanya mereka malah muncak. Bahkan tersesat di pegunungan. Padahal, kawasan pendakian di gunung tersebut kabarnya ditutup, beberapa waktu lalu.
Praktis, peristiwa itu menjadi kedua kalinya Perhutani BKPH Klakah kecolongan. Sebab, minimnya penjagaan di pintu masuk pendakian membuat pendaki-pendaki tidak berizin lolos. Entah siapa yang harus bertanggung jawab. “Mereka tidak izin ke kami. Jangankan ke kami, ke orang tuanya tidak,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Lumajang Patria Dwi Hastiadi belum berkenan menjelaskan kronologi enam mahasiswa tersebut tersesat di pegunungan. Namun, kabarnya hari ini seluruh pendaki beserta orang tuanya bakal mendatangi kantor BPBD Lumajang. Belum diketahui tujuan kedatangannya ke sana. (son/c2/fid) Editor : Safitri