BACA JUGA : Revan Lego Bisono, Dalang Cilik Asal Tembokrejo
Menariknya, maestro tari Indonesia, Didik Nini Thowok, memimpin langsung tarian Topeng Kaliwungu. Tari yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda asal Lumajang itu mampu memeriahkan peringatan Harjalu ke-767 tahun.
Selama puluhan tahun, Eyang Didik, sapaan akrabnya, sudah membawakan tari beragam daerah di Indonesia. Menurutnya, tari Topeng Kaliwungu memiliki ciri khas yang berbeda. Sebab, setelah mempelajari gerakan dan makna hasil penelitian kampus seni ternama di Indonesia itu, dia mengaku takjub.
“Tari Topeng Kaliwungu punya ciri khas sendiri. Karena ini pengaruh Pandhalungan, daerah Madura dan Jawa. Bagaimana para seniman membawakan dengan luar biasa. Apalagi leluhur menerima akulturasi budaya ini,” ungkapnya.
Pengaruh budaya dua daerah yang berbeda itu, lanjutnya, dapat diterima. Bahkan, menerima pengaruh budaya lain tanpa menghilangkan ciri khas akar budayanya. Ini menunjukkan sikap seniman yang luar biasa dan patut dicontoh generasi penerus bangsa.
Sang maestro juga berpesan, generasi muda Lumajang tidak boleh lengah. Tarian itu harus terus dilestarikan dan dibudayakan. Agar tarian itu mampu hadir dan bersanding di tengah-tengah masyarakat.
“Harus melakukannya dengan hati. Berbuat apa pun dengan hati. Apalagi seni. Saya yakin ini bisa bertahan lama. Yang jelas, hati harus ikhlas tanpa pamrih,” tambahnya.
Tak hanya Eyang Didik, Cak So, generasi penerus tari asli Lumajang itu, juga menari bersama para penari lainnya. Di usianya yang tak lagi muda, Cak So tetap tampil maksimal. Tak heran, masyarakat juga turut mengabadikan momen saat Cak So menari dengan lincah.
Selain Topeng Kaliwungu, Jaran Kencak juga ditampilkan. Sejumlah penari membawa masuk jaran atau kuda yang sudah dikenakan pakaian tari ke lapangan. Selama beberapa menit, aksi kuda menghibur masyarakat. Bahkan, Bupati dan Wakil Bupati Lumajang turut serta mengiringi kuda itu menari. (kin/c2/bud) Editor : Safitri