BACA JUGA : Berharap Ada Pembenahan Sistem Keamanan dalam Pertandingan
Termasuk warga SMPN 4 Lumajang. Pada pagi hari, ratusan murid bersama sejumlah guru menggelar salat gaib di masjid sekolah. Selain untuk mendoakan ratusan korban yang meninggal dunia, kegiatan itu juga dilakukan untuk memberikan edukasi kepada para siswa mengenai pentingnya mengendalikan diri.
Tagline “tak ada sepak bola seharga nyawa manusia” menjadi trending di jagat media sosial. Ahmad Muzaqi, salah satu murid, mengatakan, rata-rata usia suporter yang meninggal dunia itu seusianya. Bahkan bukan hanya laki-laki, anak perempuan pun lumayan banyak yang menjadi korban. Karena itu, dia sangat prihatin dengan peristiwa tersebut.
“Di sekolah kami sebetulnya ada juga pendukung klub sepak bola. Tetapi, kami diwanti-wanti untuk mengendalikan diri. Boleh suka, tetapi jangan sampai berlebihan,” katanya.
Sementara itu, Kepala SMPN 4 Lumajang Mamik Setiawati menjelaskan, sepak bola memang menjadi salah satu cabang olahraga yang digemari semua kalangan. Selain bisa dimainkan, juga menjadi tontonan yang asyik. Namun, kadang banyak pihak yang berlebihan dalam urusan menjadi pendukung salah satu klub bola.
“Kami laksanakan salat gaib dan doa bersama sebagai bagian upaya kami mencegah hal itu tidak sampai terjadi lagi. Baik di Lumajang, khususnya di sekolah kami. Karena kami mengakui, rata-rata anak-anak SMP itu minat menjadi suporter mulai terbentuk. Makanya, kami selalu berpesan harus bisa mengendalikan diri,” pungkasnya. (son/c2/fid)
Editor : Safitri