BACA JUGA : Sampah Popok di Sungai, Ortu Dapat Praktisnya tapi Ikan Bisa Mandul
Salah satu petani asal Desa Sukosari, Kecamatan Kunir, Isnaini, mengatakan, waktu panen cabai kini lebih cepat. Terhitung dua bulan lebih sedikit pascatanam, cabai sudah dipanen. Meski cabai masih terlihat muda, hal itu terpaksa dilakukan.
“Sekarang masih sering hujan. Sedangkan kalau cabai kena hujan terus-menerus juga tidak bagus kualitasnya. Makanya dipanen lebih cepat,” ujarnya. Dia menerangkan, cabai yang terkena hujan itu bisa rusak. Kulit maupun rasanya berubah. Seperti cabai rawit hijau miliknya.
Selain itu, panen lebih awal itu karena harganya yang masih mahal. Sebab, jika para petani serentak memanen, harganya akan murah. Hal itulah yang menyebabkan sejumlah petani memilih memanennya terlebih dahulu.
“Awal bulan ini harganya Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu pe rkilogram dari petani. Tetapi sekarang terus turun. Terakhir harganya Rp 18 ribu. Itu kalau bagus. Kalau ada yang tua atau warnanya kayak menghitam bisa Rp 15 ribu,” terangnya.
Petani lain, Sumo, mengeluhkan harga itu. Menurutnya, harganya akan terus menurun. Hal itu akan berdampak pada pendapatan petani. Sebab, biaya pembibitan, perawatan, hingga masa panen tidak sebanding dengan hasil. Belum lagi saat memanen atau memetik, dia harus mempekerjakan para buruh tani.
Biaya yang tidak sebanding itu juga membuatnya memanen lebih mudah. “Dipangkas waktunya. Karena biayanya tidak sebanding dengan yang kami keluarkan. Terlebih harga pupuknya juga mahal dan sulit membeli,” jelasnya.
Petani Kunir Lor itu juga memanen setiap sepuluh hari sekali. Padahal biasanya dalam sebulan hanya dipanen dua kali. Tentu, pendeknya waktu panen juga karena kebutuhan pasar yang semakin besar. Dia berharap harga cabai, khususnya cabai hijau, bisa tetap stabil. Sehingga petani tidak rugi dan bisa dibuat modal kembali. (kin/c2/fid) Editor : Safitri