Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jual Tanaman lewat Marketplace, Berkali-kali Kena PHP Customer

Safitri • Rabu, 7 September 2022 | 23:09 WIB
LIVE STREAMING: Pedagang bunga di pameran tanaman yang berada di Alun-Alun Lumajang sedang asyik live streaming di salah satu marketplace untuk menjual dagangannya.
LIVE STREAMING: Pedagang bunga di pameran tanaman yang berada di Alun-Alun Lumajang sedang asyik live streaming di salah satu marketplace untuk menjual dagangannya.
DITOTRUNAN, Radar Semeru - Maraknya media sosial dan sejumlah marketplace membuat pedagang mencoba merambah ke ranah tersebut. Tak terkecuali pedagang tanaman hias. Dengan memanfaatkan marketplace dan live streaming, pedagang bisa kebanjiran orderan hingga di luar provinsi.

BACA JUGGA : Kantor Baru, Harapkan Kinerja Bawaslu Lebih Baik

Prospek yang dinilai sangat bagus itu membuat Rodiq ketagihan. Hingga setiap hari live dua kali. Meski sering dapat pemberi harapan palsu (PHP). Siang kemarin (06/9), Rodiq, pedagang tanaman hias asal Lempeni, Tempeh, itu tengah asyik melakukan live streaming.

Saat lapak dagangannya tengah sepi pembeli, dia mulai beraksi menjelaskan berbagai macam jenis tanaman yang dijual. Mulai dari harga yang paling murah hingga paling mahal. Seperti bunga mawar hingga aglaonema.

Menurutnya, penjualannya secara daring itu sudah dilakoni sejak dua tahun yang lalu. Dengan modal seadanya dan belajar secara autodidak, terbukti berhasil dan penjualannya meningkat. Saat pandemi sudah mulai melandai dan tidak seramai saat Covid-19 berlangsung.

“Sekali live paling lama 3 jam, itu saya bisa menjual 30 tanaman dengan harga terjangkau. Kadang enggak tentu juga. Tergantung banyaknya viewers yang nonton. Malah yang beli bisa sampai luar provinsi. Karena kalau online kan jangkauannya luas,” ucapnya.

Meski demikian, penjualan secara daring tak melulu berjalan mulus. Banyak kendala yang dihadapi pedagang. Mulai dari penipuan yang hanya dibayar separuh harga ketika tanaman sudah sampai pada pemesan. Hingga seringnya diberi harapan palsu. “Dulu sempat jualan pakai Facebook, ternyata banyak penipuan. Akhirnya beralih ke Shopee. Tapi ya gitu, sering di-PHP. Bilangnya deal saat live, tapi nggak di-check out,” pungkasnya.

Namun, berkat kecanggihan media saat ini, setidaknya bisa membawa angin segar bagi pedagang. Mereka bisa berjualan secara daring meski harus berhati-hati dan pendapatan yang didapat juga cukup banyak. (dea/c2/fid)

 

  Editor : Safitri
#Lumajang