BACA JUGA : Amankan Darah, Kolaborasi Mitigasi Bencana Diperlukan
Kemarin, kegiatan itu diikuti oleh ribuan masyarakat Suku Tengger Desa Ranupani, Kecamatan Senduro. Sebelum Nyadran dan ziarah ke makam leluhur desa setempat, masyarakat berkumpul di rumah Romo Dukun. Di tempat itu, Romo Dukun akan membacakan mantra dan doa. Selanjutnya, masyarakat boleh melaksanakan ziarah.
Masyarakat Suku Tengger desa setempat berbondong-bondong mendatangi pemakaman umum dengan membawa bunga dan sesajen. Menariknya, dalam tradisi Nyadran ini masyarakat mengenakan pakaian adat saat berziarah. Iring-iringan masyarakat menuju makam beserta tetabuhan alat musik khas Tengger juga memeriahkan pelaksanaan tradisi ziarah kubur Suku Tengger di Desa Ranupani.
Pendamping Desa Ranupani Faisol Ahmad mengatakan, kegiatan itu lebih ramai dibanding tahun lalu. Sebab, kemarin masyarakat umum bahkan turis juga disilakan datang dan berpartisipasi. Sehingga pelaksanaan berlangsung lancar sejak awal kegiatan hingga akhir.
“Ritual itu sudah menjadi adat bagi masyarakat Suku Tengger. Memang mayoritas masyarakat di sini Islam. Tetapi, bagian peringatan Hari Raya Karo ini diikuti oleh semua umat. Mulai Islam, Hindu, dan Kristen,” katanya.
Memang hal itu sudah menjadi budaya yang terus dilestarikan setiap tahunnya. Sebab, masyarakat Suku Tengger meyakini Hari Raya Karo sebagai bagian dari rasa syukur atas hasil bumi yang mereka lakukan setahun terakhir. Sehingga rasa syukur itu ditutup dengan memberikan penghormatan kepada leluhur.
“Keadatan di sini memang sangat kental. Masyarakat masih belum tersentuh budaya luar. Salah satunya, ya Nyadran ini,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Ranupani Untung Raharjo berharap peringatan itu bisa menjadi salah satu upaya menyejahterakan masyarakat. Khususnya menjadi sarana pemersatu keadatan. Sehingga hal itu bisa mewujudkan Ranupani sebagai desa wisata yang ramah ke depannya. (kin/c2/fid) Editor : Safitri