Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Batuk Berlebih, Awas Tuberkulosis

Safitri • Minggu, 21 Agustus 2022 | 00:40 WIB
Photo
Photo
SENDURO, Radar Semeru – Penyakit tuberkulosis atau TB merupakan penyakit menular yang menjadi salah satu masalah utama di Indonesia. Sebab, Kementerian Kesehatan RI menyatakan TB di Indonesia menempati peringkat ketiga setelah India dan Tiongkok. Secara umum, jumlah penderitanya mencapai 824 ribu orang.

Di Lumajang, penyakit itu menjadi salah satu fokus penyelesaian. Sebab, sejumlah kasus ditemukan penyakit TB ini bersamaan dengan penyakit HIV maupun diabetes melitus atau kencing manis. Oleh karena itu, perlu upaya bersama agar angka kasus itu bisa ditekan.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah screening atau pendeteksian terhadap penyakit. Rabu lalu (17/8), Rumah Sakit Umum Muhammadiyah (RSUM) bersama Lazismu menggelar screening TB di Senduro. Dari seratus orang lebih yang diperiksa, sepuluh di antaranya terdeteksi sakit TB. Karena itu, mereka perlu penanganan agar sembuh dari penyakit tersebut.

Dokter spesialis paru, dr Dwi Yuliati SpP mengatakan, screening menjadi cara jitu menekan angka kasus. Tujuannya untuk menemukan kasus TB secara cepat, mengobatinya dengan cepat, dan mencegahnya juga cepat. Hingga kasus ini bisa tertangani lebih dini.

Yuli mengungkapkan, selama ini masyarakat kurang peduli terhadap kesehatannya. Salah satunya batuk. Mereka menganggap bahwa itu batuk biasa. Padahal, jika batuk lebih dari dua pekan terindikasi sebagai gejala TB.

“Sebenarnya mengetahui TB itu sangat mudah sekali. Gejala umumnya batuk lebih dari atau sama dengan dua pekan. Ini saja sudah menunjukkan gejala penyakit TB. Makanya, perlu pemeriksaan. Karena ada pemeriksaan dahak dan foto toraks atau rontgen,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, batuk yang dibiarkan tanpa diobati itu berpotensi besar menyebabkan TB semakin parah. Sebab, penyakit menular itu bisa menyebar dengan cepat. Terlebih, jika pasien terduga TB tidak segera mengobati. Hasilnya, kematian bisa menjadi ancaman.

“Kondisi pasien di Lumajang ini kurang aware. Masih sering menyepelekan. Karena mereka menganggapnya batuk biasa. Sehingga saat sudah parah datang ke RS. Ini sudah sangat terlambat. Karena potensi komplikasi seperti batuk darah, sakit jantung, gizinya buruk, bahkan bisa meninggal,” jelasnya. (kin/c2/fid)

  Editor : Safitri
#Lumajang