Baca Juga : 11 Orang Hilang saat Ritual di Pantai Payangan, Dua Orang Ditemukan Tewas
Tentu hal itu membuat Sumiati, sang pelukis, senang. Sebab, setelah menyelesaikan hasil lukisannya, sosok yang dilukis, Bunda Indah Amperawati, langsung mendatangi bengkel lukisan miliknya. Di ruangan yang sempit itulah Bunda Indah melihat beragam karya lukisannya.
Bu Marjo, sapaan akrab Sumiati, mulai melukis di tahun 2011. Kala itu, dia belajar secara autodidak. Namun, berkat kegigihan dan ketekunan belasan tahun itulah, sedikit demi sedikit hasil karyanya mulai laku. Menurutnya, lukisan wajah Bunda Indah belum maksimal. Meski demikian, karyanya itu justru langsung dibeli Bunda Indah. "Saya sering tidak percaya diri dengan hasil lukisan saya sendiri. Karena tidak banyak teori yang saya pelajari. Apalagi saya tidak lulus sekolah rakyat (SD, Red)," ungkapnya.
Namun, kedatangan orang nomor dua di Lumajang itu mengubah pemikirannya. Dia bertekad terus bersemangat dan belajar melukis lagi. Sehingga hasil lukisannya bisa lebih baik lagi. Terlebih lukisan itu bisa menarik banyak perhatian dan penikmat seni lukisan lainnya.
Sementara itu, Bunda Indah yang datang langsung takjub melihat hasil karya perempuan paruh baya itu. Menurutnya, lukisan itu sangat hidup dan mirip. Bunda berharap adanya pelukis perempuan mampu menjadi pemantik semangat bagi generasi pelukis muda di Lumajang lainnya untuk berkembang. "Ini lukisannya mirip sekali dengan wajah saya. Saya dulu pernah mendapat lukisan, tapi masih kurang mirip. Apalagi jarang sekali ada pelukis perempuan yang sudah lanjut usia,” katanya.
Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Ade Apriyanis
Redaktur : Dwi Siswanto Editor : Safitri