Balap sepeda merupakan salah satu cabang olahraga prioritas Kabupaten Lumajang dalam ajang Porprov VII Jatim. Oleh sebab itu, Kejurprov balap sepeda menjadi salah satu alat ukur guna melihat kemampuan atlet. Meski diundur, atlet tetap latihan. Menariknya, mereka latihan tanpa mengenakan masker. Hal tersebut bukan untuk melanggar protokol kesehatan (prokes) selama pandemi. Melainkan menjaga agar kesehatan atlet tidak terganggu.
“Kami tetap latihan. Tetapi, jadwal setiap nomor pertandingan berbeda-beda. Latihan pagi dan sore. Nah, selama latihan, atlet tidak boleh mengenakan masker. Karena risikonya sangat berbahaya. Bahkan bisa menghilangkan nyawa,” kata Ashuri, Ketua Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Lumajang.
Dia mengungkapkan, melepaskan masker merupakan bagian dari menjaga daya tahan tubuh atlet. Sebab, olahraga balap sepeda selalu membutuhkan kekuatan yang besar. Paling penting adalah pengaturan napas atlet. Karena itu, jika dalam bernapas terhalang masker, atlet bisa cedera fatal. Mulai dari sesak napas hingga kematian.
Oleh karena itu, pihaknya tidak menyarankan atlet mengenakan masker selama latihan. Tetapi, jika dalam keadaan briefing atau istirahat dan berkumpul, pihaknya selalu mengingatkan memakai masker. “Jadi, hanya melepas masker saat latihan saja. Karena ketika atlet mengayuh, kayuhan itu akan cepat. Otomatis, tenaga dan oksigen yang dibutuhkan lebih banyak,” tambahnya.
Sejauh ini, pihaknya belum pernah didatangi Satgas Covid-19. Sebab, mereka memilih latihan di alam dan pegunungan. Mereka memang menjauhi kerumunan di sekitar kawasan kota. Namun, bukan berarti menghindari Satgas Covid-19 karena tidak mengenakan masker. “Sementara ini, kami belum didatangi. Tetapi, jika mengacu pada aturan, balap sepeda ini memang tidak disarankan mengenakan masker. Karena beberapa tahun yang lalu sempat kejadian di Jember, nyawa pesepeda tidak tertolong. Napasnya terganggu dengan masker,” pungkasnya.
Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri