Sekitar pukul 08.00, jembatan sepanjang kurang lebih 20 meter dan lebar sekitar 1,75 meter tersebut terputus. Jembatan darurat yang dibuat warga setempat dengan memanfaatkan bahan dasar bambu ini ternyata tidak mampu menahan aliran lahar yang membawa pasir serta batu kerikil dari Gunung Semeru.
Saiful, warga Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, harus putar balik melewati Jembatan Nguter untuk menuju Kecamatan Pasirian. Dia kecelik tidak bisa lewat jembatan alternatif tersebut. "Dulu pernah gak bisa lewat karena putus. Sekarang putus lagi, ya, saya harus lewat agak jauh," katanya.
Diakui, sejak dini hari kemarin sebagian besar wilayah di Lumajang diguyur hujan. Bahkan, sejak dini hari hingga siang hari hujan belum juga reda. Akibatnya, aliran lahar dingin di beberapa sungai sampai penuh. Aliran lahar di Sungai Mujur tersebut pun sangat deras.
Arifin, warga setempat, mengatakan, rencananya warga desa bakal melakukan pembangunan jembatan darurat ulang. Putusnya jembatan tersebut menjadi kedua kalinya selama ini. Padahal, jembatan itu menjadi akses penghubung dua kecamatan. Seharusnya perlu mendapat perhatian serius.
"Kami berharap pembangunan jembatan yang putus itu segera dibangun permanen. Karena kalau bangun jembatan darurat seperti ini menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi, kalau putus lagi, pasti ada biaya lagi. Karena uangnya berasal dari urunan dan swadaya masyarakat setempat," pungkasnya.
Jurnalis : Atieqson Mar Iqbal
Fotografer : Atieqson Mar Iqbal
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri