Syamsul, Bagian Pengawasan dan Pengendalian Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumber Daya Air (UPT PSDA) Wilayah Sungai Bondoyudo Baru, mengatakan, normalisasi tersebut merupakan proyek multi-years pusat. Sehingga jangkauan normalisasi sangat luas dan panjang. "Normalisasi dimulai dari hulu hingga hilir di Jember," katanya.
Meski alat berat dan pekerja proyek banyak, proyek normalisasi tersebut memerlukan waktu yang lama. Sebab, normalisasi tersebut seharusnya dilakukan setiap tahun. Namun, karena pandemi, pihaknya baru memulai beberapa hari ini.
"Rencana, normalisasi ini membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Memang harusnya sudah dilakukan setiap tahun. Terutama tahun kemarin. Tetapi, karena ada pandemi, jadi mandek. Baru beberapa hari ini kami mulai kembali. Kami keruk sedimen yang menghambat jalannya air di Sungai Bondoyudo," jelasnya.
Mandeknya normalisasi menyebabkan sedimen yang terbentuk pada sungai sangat parah. Dia menuturkan, pengerukan tersebut akan dilakukan secara kontinu dan detail. Agar aliran air dapat berjalan lancar. Tidak hanya di sungai besar, namun sepanjang jaringan irigasi (JI) Bondoyudo juga akan dilakukan normalisasi.
"Tujuan utamanya agar kebutuhan air baku pertanian terpenuhi. Artinya, akan ada peningkatan kinerja jaringan irigasi. Kalau sudah seperti ini, lahan pertanian tidak akan kekurangan air. Selain itu, sedimen yang dikeruk juga bisa mencegah terjadi luapan saat debit air bertambah," pungkasnya.
Masyarakat yang melintas di jalan raya sepanjang Sungai Bondoyudo diminta untuk waspada. Sebab, sejumlah alat berat dan pekerja sedang menjalankan proyek normalisasi. Sehingga bisa jadi arus lalu lintas terganggu. "Pohon-pohon yang ada juga dipangkas. Pohon itu wewenang kami. Sehingga, jika dipangkas bisa memudahkan proses pengerukan alat berat," tambahnya.
Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri