Lelaki itu bernama Mustakim. Seorang penjual rangin di Jalan Ahmad Yani, Kepuharjo, Lumajang. Setiap hari, dia menjajakan rangin buatannya ke warga sekitar dan pengendara yang melintas. Tanpa ajakan membeli, orang-orang sudah berbondong-bondong menghampiri. "Rezeki sudah ada yang mengatur. Dan setiap rezeki yang datang tidak pernah salah alamat," katanya.
Falsafah itulah yang selalu memotivasinya untuk tetap bertahap di tengah pandemi. Dia mengungkapkan, ide jualan tersebut bukan darinya. Melainkan saran dari kakaknya yang berada di luar kota. "Kamu belajar buat rangin di sini. Nanti, di Lumajang kamu tidak perlu bingung dan repot bekerja serabutan lagi. Cukup jual rangin seperti saya di sini," ucapnya menirukan kakaknya.
Saran tersebut diterima. Dia lantas belajar bersama kakaknya beberapa kali. Resep yang diberikan tidak main-main. Itu resep keluarga yang sudah turun-temurun. Oleh sebab itu, banyak masyarakat kembali ingin membeli ranginnya setelah mencoba. "Kata pembeli, rasanya gurih dan enak," tambahnya.
Padahal, jika melihat proses dan bahannya, tidak berbeda dengan rangin lainnya. Tidak hanya itu, pemilihan tempat jualan juga menjadi faktor ranginnya digemari banyak orang. Dia memilih menjual di sekitar kawasan kota. Sebab, orang kota jarang makan makanan tradisional seperti rangin.
"Kalau di rumah atau di desa sudah dianggap biasa. Tapi, kalau di kota, mereka akan mencobanya. Pertama, mereka hanya tertarik. Kedua, ketiga, dan seterusnya akan merasakan nikmatnya rangin. Apalagi bagi mereka yang hampir setiap hari tidak merasakan jajanan tradisional seperti rangin," jelasnya.
Meski demikian, rintangan tetap selalu ada. Beberapa kali pindah tempat lokasi penjualan, dia selalu mengalami. Awalnya menjual di kawasan Pasar Klakah. Namun, hanya bertahan satu bulan karena persaingan jajan tradisional sangat ketat. Setelah pindah ke kawasan kota, terutama di Kepuharjo, hampir tidak ditemukan penjual serupa. "Dulu ada yang jual rangin juga. Tetapi ketika pandemi, dia berhenti. Jadi, hanya saya saja," lanjutnya.
Lelaki asal Gucialit tersebut menuturkan, jajanannya pernah hanya laku satu lembar rangin atau Rp 2 ribu rupiah. Namun, dia tetap optimistis, hari selanjutnya akan terus bertambah. "Sempat sedih hanya laku Rp 2 ribu. Padahal, modalnya ini ratusan ribu. Pendapatan biasanya bisa sampai Rp 200 ribu. Saat sampai di rumah, saya hanya bisa menenangkan istri ketika ditanya. Karena memang bahan yang dibawa dari rumah masih sangat banyak," tuturnya.
Istrinya mendukung penuh langkah suaminya tetap menjual rangin. Sebab, hasil jualan tersebut bisa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Anak dua. Satu sekolah dan lainnya masih kecil. Hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-harinya. Makanya tetap menjual rangin meski pernah laku Rp 2 ribu," pungkasnya.
Jurnalis : Muhammad Sidkin Ali
Fotografer : Muhammad Sidkin Ali
Redaktur : Hafid Asnan Editor : Safitri