Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Selep Daging Panen Rezeki

Safitri • Rabu, 21 Juli 2021 | 16:05 WIB
SIBUK: Salah seorang pegawai selep daging di Pasar Baru Lumajang, Tompokersan, sibuk mengolah bumbu dan daging, kemarin. Warga berbondong-bondong mengolah daging menjadi adonan pentol di sejumlah selep daging.
SIBUK: Salah seorang pegawai selep daging di Pasar Baru Lumajang, Tompokersan, sibuk mengolah bumbu dan daging, kemarin. Warga berbondong-bondong mengolah daging menjadi adonan pentol di sejumlah selep daging.
LUMAJANG, RADARJEMBER.ID – Hari Raya Idul Adha tahun ini tak berbeda dengan sebelumnya. Seperti biasa, masyarakat melakukan penyembelihan hewan kurban berupa kambing atau sapi di sejumlah tempat. Umumnya, dilakukan secara kelompok di masjid atau lapangan. Namun, di tahun kedua pandemi ini, penyembelihan tidak bisa serentak. Hal tersebut untuk menghindari kerumunan. Apa pun itu, tempat penyelepan (penggilingan) daging tetap panen orderan.

Seperti pada umumnya, masyarakat akan menikmati sejumlah hidangan daging olahan kurban. Salah satunya adalah pentol atau cilot. Hal ini mendatangkan rezeki bagi sejumlah pemilik usaha selep daging.

Yayuk, salah satu pemilik usaha selep daging di Pasar Baru Lumajang, Tompokersan, bersyukur menghadapi momen ini. Sebab, masyarakat berbondong-bondong datang ke kiosnya untuk mengolah daging kurban. "Banyak sekali yang datang. Kalau hari-hari biasa hanya pelanggan tetap dari tukang pentol atau bakso. Sedangkan saat momen Idul Adha seperti ini, justru banyak masyarakat yang ke sini," ungkapnya.

Memang, saat Idul Adha, pelanggan tetapnya akan libur selama dua hari. Sebab, masyarakat masih menikmati olahan daging yang mereka dapat. "Biasanya sekitar 30 orang. Hari ini (kemarin, Red) sudah puluhan orang yang datang. Bahkan hampir seratus. Jumlah ini jauh dengan hari-hari biasa. Kalau pedagang dua hari saja liburnya. Momen ini dimanfaatkan masyarakat," jelasnya.

Rata-rata, setiap orang datang dengan daging tiga kilogram. Bahkan, ada juga yang membawa lima kilogram daging. Pada hari biasa, dia mematok harga Rp 6 ribu per kilo. Kini, upah penggilingan naik Rp 2 ribu. "Jadi, upahnya Rp 8 ribu," tambahnya.

Keuntungan yang didapat berkali-kali lipat. Sebab, dia harus melayani konsumen hampir selama sepuluh jam. Padahal, biasanya hanya lima jam. "Tepung saja habis 80 kilogram. Bersyukur pendapatan yang masuk dua sampai tiga kali lipat," pungkasnya.

Jurnalis: Muhammad Sidikin Ali
Fotografer: Muhammad Sidikin Ali
Editor: Hafid Asnan Editor : Safitri
#Idul Adha