Subchan adalah pemilik usaha sablon dan jahit. Dia sudah kenyang merasakan jatuh bangun merintis usaha. Dia menceritakan, sejak kelas empat SD dia sudah dididik orang tuanya untuk hidup mandiri. “Pertama ternak kambing,” katanya.
Saat ini, dia sedang mengembangkan usaha bidang jahit dan sablon kaus. Menurutnya, usaha ini merupakan peluang yang menarik dan menjanjikan. Usaha yang dirintis sejak 2016 ini dalam dua tahun berjalan sudah banjir pesanan.
Dia menjelaskan, percaya diri dan keberanian merupakan modal utama dalam berbisnis. Sebagai mahasiswa akhir STIE Widya Gama Lumajang, dia tidak pernah malu untuk mempromosikan usahanya dari warung ke warung. “Promosinya dari warung kopi ke warung kopi saja,” katanya.
Subchan sendiri mengenal usaha ini dari internet. Dia mencari informasi melalui media sosial. Berbekal informasi itu, dia memantapkan diri belajar menjahit dan sablon ke Solo. “Saya juga kursus di Bekasi dan Kediri,” jelasnya.
Subchan mengaku, ia merintis usahanya dari sisa uang kerja di Samarinda dan pinjam modal lima juta ke bank. Setelah berjalan beberapa bulan, dia menambah besaran pinjaman dan menggabungkan dengan hasil penjualan.
Tahun 2018 menjadi pemicu semangat dalam berwirausaha bangkit. Saat itu, ada pesanan kaus sablon sejumlah 1.650 potong yang mendatangkan keuntungan besar. Lebih dari seratus juta rupiah berhasil dia kumpulkan selama setahun. “Alhamdulillah, rezeki sudah ada yang mengatur,” kata lelaki yang pernah jadi tukang tambal ban ini.
Kini, usahanya tidak dijalankan sendiri. Ada empat karyawan yang dia pekerjakan. Usahanya kini juga mampu memberi lapangan pekerjaan bagi para pemudadi sekitarnya. Selain sebagai pemilik, dia juga merangkap sebagai karyawan. “Jadi, saya juga tetap bekerja,” katanya.
Di tahun ini, dia sedang membidik sablon digital printing. Baginya, hal itu akan lebih menjanjikan. Dia berharap usahanya ini mampu menembus pasar nasional. “Yang penting yakin,” pungkasnya. Editor : Radar Digital