Setidaknya, ada tiga perusahaan mitra yang menggandeng petani untuk produksi tembakau. Dua di antaranya sudah mulai membuka penjualan. Seperti PT AOI dan PT Sadhana. Sedangkan PT IDS masih belum menerima penjualan. Padahal, tak sedikit petani yang menjadi mitra perusahaan tersebut. Totalnya sekitar 300-an hektare.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lumajang Dwi Wahyono mengatakan, ketiga perusahaan tersebut membina sekitar 700 hektare lebih lahan tembakau. Seluas 300 hektare lebih petani kasturi rajangan binaan PT Sadhana, 200 hektare lebih petani kasturi krosok dan white burley binaan PT AOI. Terakhir 200 hektare lebih petani kasturi rajangan merupakan binaan PT IDS.
“Kalau IDS ada yang di Desa Yosowilangun Kidul, Desa Bades, Kecamatan Pasirian, Kecamatan Tempeh, menyebar berbagai desa, Rowokangkung, Sumbersuko, dan Randuagung,” ucapnya. Hampir 50 persen seluruh petani sudah melakukan panen tapi belum bisa terjual. Paling banyak Kecamatan Yosowilangun sekitar 60 persen sudah panen.
Dwi mengaku, cukup banyak petani yang sambat pada dirinya. Banyak petani yang khawatir kualitas tembakau rajangan semakin menurun karena disimpan terlalu lama. Dampaknya berakibat pada harga jual tembakau yang anjlok. “Kita sudah sampaikan keluhan itu, tapi perusahaan pusat katanya belum ada respons. Kita khawatir makin rugi saja,” ucapnya.
Mendengar keluhan tersebut, Bupati Thoriqul Haq meminta PT IDS segera membuka penjualan tembakau kasturi rajangan. Pihaknya mendesak agar segera diagendakan pertemuan dengan jajaran direksi untuk membicarakan tindak lanjut kemitraan petani tembakau. “Tolong diagendakan dengan pimpinan PT IDS. Kita pingin ada solusi,” pungkasnya. Editor : Safitri