Sukari, warga Desa Kaliwungu, Kecamatan Tempeh, mengungkapkan keluhannya. Saking lamanya menimbun tembakau kasturi rajangan miliknya, warna tembakau itu mulai sedikit berubah. Mulai berwarna kecoklat-coklatan. Padahal warna kuning sebetulnya kualitas terbaik tembakau yang masuk harga jual mahal.
“Per kilogramnya kayaknya turun. Itu sekitar Rp 34 ribu paling mahal kalau di PT Sadhana,” ucapnya. Padahal, daun tembakau yang dipetik itu merupakan daun paling atas. Sehingga bisa masuk kategori tembakau kualitas top great, seharusnya harga jual daun itu bisa tembus Rp 38 ribu.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lumajang Dwi Wahyono menyebutkan, tidak ada perbedaan harga antara periode tahun ini dengan tahun sebelumnya. Hanya saja, kategori daun tembakau top great ditiadakan. Artinya, sekalipun panen petikan daun terbaik, tetapi harganya Rp 34 ribu.
“Sama harganya. Top great-nya tetap Rp 38 ribu, itu SSP atau kualitas atas yang super. Sekarang kualitasnya tidak bisa SSP. Tetapi disamakan semuanya menjadi S1, ini kode daun atas. Harganya tetap Rp 34 ribu. Paling bagus tahun ini adalah S1 karena sekarang posisinya kemarau basah,” jelasnya.
Memang belakangan ini cuaca sedang tidak menentu. Musim hujan di Lumajang terbilang cukup terlambat. Sehingga masa tanam tembakau mundur hingga beberapa bulan. “Kita tanam mulai Bulan Mei hingga Juni. Sekarang ketika memasuki masa panen saja musimnya sering mendung,” pungkasnya. Editor : Safitri