Khususnya petani tembakau yang mengeluh karena gagal melakukan penjualan. Kabar terbaru, kegiatan ekspor tembakau berkualitas tinggi tersebut gagal karena pandemi.
Deni Suwarno, petani warga Desa Tumpeng, Kecamatan Candipuro, menyatakan, pandemi Covid-19 sangat membuatnya resah. Bagaimana tidak, tembakau yang seharusnya sukses diekspor, pada tahun ini gagal. Itu karena negara tujuan melakukan penolakan mengimpor. "Australia dan China menolak menerima," ucapnya.
Dia mengaku, harga tembakau miliknya kualitas unggulan. "Ini jenis tembakau burley," ucapnya. Tanaman tembakau tersebut dinilai tinggi bagi pecinta tembakau. Karena memiliki rasa dan aroma yang manis dan harum. Harga kualitas yang bagus per kilogram Rp 42 ribu.
Namun, tembakau tersebut dalam kondisi sekarang mengalami kesusahan karena target pasar tidak menerima. Dia mengaku, meski pasar luar negeri menolak menerima, namun pasar lokal menjadi alternatif dalam penjualan. Pembeli dalam negeri masih ada. Sehingga harga kualitas bagus masih terjaga, dengan diberi harga Rp 37 ribu.
Dia juga menyampaikan aspirasi kepada pemerintah, bahwa pupuk sekarang sulit didapat dan harganya tinggi. "Dulu per kuintal pupuk ZA Rp 170 ribu, sekarang harga segitu sudah tidak dapat," ucapnya.
Di sisi lain, dia juga memiliki karyawan untuk diberi gaji. Sehingga baginya, kondisi seperti sekarang, masa tersulit dalam 20 tahunnya selama bergelut di dunia bisnis tembakau. Editor : Safitri