Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dua Kali Panen Petani Sawi Tekor

Safitri • Jumat, 11 September 2020 | 01:30 WIB
LESU: Para petani sawi di Desa Kandang Tepus, Kecamatan Senduro, ketika melakukan panen. Sawi menjadi salah satu komoditas pertanian yang harganya hancur-hancuran di tengah pandemi.
LESU: Para petani sawi di Desa Kandang Tepus, Kecamatan Senduro, ketika melakukan panen. Sawi menjadi salah satu komoditas pertanian yang harganya hancur-hancuran di tengah pandemi.
LUMAJANG, RADARJEMBER.ID - Hasyim, seorang petani asal Desa Kandang Tepus, Kecamatan Senduro, tahun ini harus lebih tabah dan sabar. Hasil tanaman sawi di ladangnya tidak cukup untuk keperluan sehari-hari. Per kilo gram sawi hanya laku Rp 500.

Murahnya penjualan sawi sudah terjadi dalam dua kali panen terakhir. "Dua kali panen harganya tidak bagus," ucapnya. Dalam pengiriman hasil taninya, dia mengaku melalukan pengiriman paling sering ke Batu dan Kabupaten Banyuwangi. Sebab, dua kabupaten tersebut paling banyak permintaan dalam 3 tahun terakhir.

Namun, sejak wabah korona, dua kabupaten tersebut sudah tidak meminta pengiriman kembali. Sehingga target pasar hanya cukup untuk lokal Lumajang. Sebab, daerah lain tidak ada permintaan.

Menurutnya, kondisi harga sayuran di berbagai daerah sama. Harganya lesu dan cenderung turun drastis. "Kalau tidak laku karena harganya murah, nantinya akan dibuat pupuk organik. Ya tinggal di potong-potong sayurnya, terus disebar. Biar tanah jadi subur," tuturnya.

Padahal, secara fisik sawi miliknya cukup baik. Meski sedikit ada bercak-bercaknya, secara keseluruhan sayur tersebut tergolong bagus.

Akibat kondisi ini, kerugian yang dialami dalam sekali panen bisa tembus Rp 8 juta. "Jika dihitung secara untung, ya tidak untung. Kembali modal saja sudah alhamdulillah. Jika harga panen ketiga kalinya nanti harga sawi tambah turun, otomatis saya bangkrut," ujarnya. Editor : Safitri
#Pertanian