Murahnya penjualan sawi sudah terjadi dalam dua kali panen terakhir. "Dua kali panen harganya tidak bagus," ucapnya. Dalam pengiriman hasil taninya, dia mengaku melalukan pengiriman paling sering ke Batu dan Kabupaten Banyuwangi. Sebab, dua kabupaten tersebut paling banyak permintaan dalam 3 tahun terakhir.
Namun, sejak wabah korona, dua kabupaten tersebut sudah tidak meminta pengiriman kembali. Sehingga target pasar hanya cukup untuk lokal Lumajang. Sebab, daerah lain tidak ada permintaan.
Menurutnya, kondisi harga sayuran di berbagai daerah sama. Harganya lesu dan cenderung turun drastis. "Kalau tidak laku karena harganya murah, nantinya akan dibuat pupuk organik. Ya tinggal di potong-potong sayurnya, terus disebar. Biar tanah jadi subur," tuturnya.
Padahal, secara fisik sawi miliknya cukup baik. Meski sedikit ada bercak-bercaknya, secara keseluruhan sayur tersebut tergolong bagus.
Akibat kondisi ini, kerugian yang dialami dalam sekali panen bisa tembus Rp 8 juta. "Jika dihitung secara untung, ya tidak untung. Kembali modal saja sudah alhamdulillah. Jika harga panen ketiga kalinya nanti harga sawi tambah turun, otomatis saya bangkrut," ujarnya. Editor : Safitri