Pendamping Perhutanan Sosial Lumajang Deddy Hermansjah menjelaskan, sejak berhasil mendapatkan Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (KULIN KK) 2017 lalu, memang sudah mulai dioptimalkan. Namun, meski sudah jadi jujukan ribuan warga setiap harinya, sampai saat ini belum semua potensi wisata sudah tergarap.
Dia menyebutkan, gagasan yang diimplementasikan untuk pengembangan wana wisata Siti Soendari adalah wanawisata dengan konsep ekowisata berbasis partisipasi masyarakat dan komunitas. Ada enam komunitas yang berhasil digandeng. Komunitas Pedal Semeru Burno (PSB) berkomitmen mengembangkan sarana olahraga trek downhill (bike park), komunitas trail, komunitas Jeep, Komunitas Kelompok Pecinta Alam Raja Giri, komunitas bunga, Komunitas Jagawana (masyarakat setempat).
Masing-masing komunitas, menurutnya, berkewajiban mengembangkan wahana wisata dengan tetap fokus sesuai bidang yang ditekuninya. Saat ini sejumlah wahana sudah mulai dibangun. Namun, semua bangunan sangat ketat memperhatikan kelestarian lingkungan. “Jika dirata-rata, rupanya masih belum separuh yang sudah dioptimalkan. Masih banyak yang belum selesai, tetapi pengunjung tak bisa dibendung,” katanya.
Manajemennya juga dilakukan dengan melibatkan masyarakat. “Menerapkan sistem manajemen Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Wanawisata Siti Soendari. Tidak dikelola sendiri, tetapi bersama,” pungkasnya. Editor : Safitri