Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

 Bondo Seret, tapi Pengunjung Seabrek 

Safitri • Senin, 7 September 2020 | 22:03 WIB
MAKIN RAMAI: Sejumlah pengunjung ketika bersantai menikmati keindahan alam di lokasi wisata Siti Soendari. Wisata yang tanpa sentuhan pemerintah daerah ini bisa melejit dan mengundang ribuan pengunjung luar daerah.
MAKIN RAMAI: Sejumlah pengunjung ketika bersantai menikmati keindahan alam di lokasi wisata Siti Soendari. Wisata yang tanpa sentuhan pemerintah daerah ini bisa melejit dan mengundang ribuan pengunjung luar daerah.
LUMAJANG, RADARJEMBER.ID - Pembangunan sektor wisata unggulan di Ranupane memang sudah melalui proses yang panjang. Bahkan sampai mendatangkan menteri turun ke Lokasi. Tetapi ternyata, hasilnya belum juga terwujud. Bahkan, tak nampak tanda-tanda keramaian. Di tempat lain, ada wisata Siti Soendari yang dikelola warga setempat. Kondisinya makin ramai hingga bersesak-sesakkan.

Benar! Destinasi wisata yang berada di kaki Gunung Semeru ini makin eksis dan terdengar hingga luar daerah. Alam hutan yang terawat dengan baik tersebut bagaikan magnet yang bisa mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah. Padahal perencanaannya baru beberapa bulan, tetapi tiket parkir kendaraan bisa sempat kehabisan.

Ketua KTH LMDH Wono Lestari Edi Santoso mengakui, pemanfaatan hutan untuk dijadikan sebagai destinasi wisata tersebut melibatkan masyarakat setempat. Termasuk seluruh komunitas yang ada di Lumajang. "Maklum saja, kita memang benar-benar tidak memiliki modal besar untuk membuat wisata unggulan," ucapnya.

Namun, siapa sangka jika langkah tersebut berhasil meramaikan destinasi ini. Hampir setiap hari selalu ramai dikunjungi pengunjung yang makin penasaran. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, jumlahnya semakin padat. Saking banyaknya pengunjung yang masuk, karcis parkir yang disediakan untuk kendaraan selalu ludes.

Pendamping Perhutanan Sosial Lumajang Deddy Hermansjah menjelaskan, sejak tahun 2017, masyarakat setempat berhasil mendapatkan Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (KULIN KK). Praktis, masyarakat setempat akhirnya punya hak memanfaatkan hutan di Burno sebagai wisata.

Sementara ini, total lahan yang dimanfaatkan sebagai tempat destinasi wisata seluas 9,2 hektare. Seluruhnya dikelola oleh tujuh komunitas yang berada di bawah naungan LMDH Wono Lestari. "Pendampingan terus kami lakukan agar pemanfaatannya tidak merusak hutan. Saya berharap ini bisa jadi ekowisata yang berbasis komunitas yang bisa terus dimaksimalkan," pungkasnya. Editor : Safitri
#Wisata