Benar! Destinasi wisata yang berada di kaki Gunung Semeru ini makin eksis dan terdengar hingga luar daerah. Alam hutan yang terawat dengan baik tersebut bagaikan magnet yang bisa mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah. Padahal perencanaannya baru beberapa bulan, tetapi tiket parkir kendaraan bisa sempat kehabisan.
Ketua KTH LMDH Wono Lestari Edi Santoso mengakui, pemanfaatan hutan untuk dijadikan sebagai destinasi wisata tersebut melibatkan masyarakat setempat. Termasuk seluruh komunitas yang ada di Lumajang. "Maklum saja, kita memang benar-benar tidak memiliki modal besar untuk membuat wisata unggulan," ucapnya.
Namun, siapa sangka jika langkah tersebut berhasil meramaikan destinasi ini. Hampir setiap hari selalu ramai dikunjungi pengunjung yang makin penasaran. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, jumlahnya semakin padat. Saking banyaknya pengunjung yang masuk, karcis parkir yang disediakan untuk kendaraan selalu ludes.
Pendamping Perhutanan Sosial Lumajang Deddy Hermansjah menjelaskan, sejak tahun 2017, masyarakat setempat berhasil mendapatkan Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (KULIN KK). Praktis, masyarakat setempat akhirnya punya hak memanfaatkan hutan di Burno sebagai wisata.
Sementara ini, total lahan yang dimanfaatkan sebagai tempat destinasi wisata seluas 9,2 hektare. Seluruhnya dikelola oleh tujuh komunitas yang berada di bawah naungan LMDH Wono Lestari. "Pendampingan terus kami lakukan agar pemanfaatannya tidak merusak hutan. Saya berharap ini bisa jadi ekowisata yang berbasis komunitas yang bisa terus dimaksimalkan," pungkasnya. Editor : Safitri