Kharis Ikhsanusi, warga Desa Tukum, Kecamatan Tekung, menyampaikan kesedihannya karena baru keluar dari pekerjaanya sebagai buruh pabrik kayu. "Pilih mundur saja, karena pabriknya tutup, bayarannya juga tambah turun, kerjanya tambah berat," ujarnya.
Lelaki empat bersaudara tersebut terpaksa mundur setelah tempatnya bekerja hanya mampu membayarnya separuh dari gaji normal. "Biasanya dapat Rp 900 ribu per bulan, sekarang menjadi kurang dari segitu, kerjaannya tiap hari malah selalu lembur," ungkapnya.
Dia mengaku tidak hanya seorang diri. Tetapi disusul oleh teman yang lainnya. Kharis, sapaannya, baru menyadari setelah seminggu dirinya mengundurkan diri, pabriknya memilih istirahat untuk sementara. Sebab, pasar Asia maupun Eropa memilih berhenti mengimpor bahan dari luar. Sehingga pabriknya juga memilih berhenti produksi.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Lumajang Suharwoko membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, banyak perusahaan yang memilih merumahkan pekerjanya. Sebab, target pasar atau negara tujuan barangnya memilih tidak menerima barang dari luar.
Hal tersebut tidak terlepas dari kondisi wabah korona yang semakin tidak terkendali di negara ini. "Untuk datanya, saya ada. Diperkirakan ada 600-an pekerja yang dirumahkan," ungkapnya.
Editor : Safitri