Radar Jember - Belakangan ini, seiring dengan pergeseran pola hidup masyarakat menjadi pola hidup modern.
Makanan junkfood atau cepat saji yang tinggi lemak dan gula sudah menjadi konsumsi sehari-hari.
Belum lagi pola aktivitas yang kurang gerak. Semua hal itu menjadi penyebab obesitas. Obesitas ternyata menjadi salah satu penyebab penyakit perlemakan hati yang akan menyebabkan kerusakan hati kronis.
dr Hana Nadya Sp PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Bina Sehat Jember, menjelaskan betapa pentingnya organ hati (liver) dalam tubuh.
Baca Juga: Jangan Cuma Pasrah! Kehadiran Ayah sejak Istri Hamil Ternyata Jadi Vitamin Pertama Anak
"Hati adalah organ terbesar dalam tubuh yang memegang banyak fungsi seperti detoksifikasi (penyaringan racun), sebagai pabrik energi dan tempat diproduksinya berbagai substansi penting seperti albumin, vitamin, dan zat koagulasi darah," jelasnya.
Dikatakan, mekanisme obesitas dalam menyebabkan kerusakan hati diawali dengan tingginya tumpukan zat lemak di dalam hati yang disebabkan karena konsumsi makanan tinggi lemak dan gula.
Rongga-rongga dalam hati yang seharusnya ditempati oleh sel hati akan ditempati oleh lemak dalam jumlah besar. Lemak-lemak ini pada akhirnya akan teresterifikasi (berubah bentuk menjadi senyawa ester) yang akan memicu terjadinya keradangan hati.
"Keradangan hati yang terjadi dalam waktu lama akan menyebabkan kerusakan kronis yang memicu munculnya jaringan parut hati (sirosis) bahkan berpotensi besar menyebabkan kanker hati (hepatoma). Secara definisi, jika jumlah lemak hati melebihi 5 perse dari total berat hati, maka disebut sebagai perlemakan hati atau hepatosteatosis," ungkap Dokter Hana.
Baca Juga: Gencarkan Edukasi Keamanan Pangan MBG, Balai POM di Jember Libatkan Kader Sekolah dan Posyandu
Dokter Hana melanjutkan, pada tahap awal, gejala perlemakan hati masih minimal. Beberapa yang dirasakan pasien adalah rasa sebah, mual, tidak enak di bagian perut atas, bahkan bisa tanpa gejala.
Namun pada tahap kerusakan lanjut atau kanker hati akan muncul gejala yang lebih parah seperti perut membengkak, mata kuning, badan lemah serta penurunan berat badan yang menunjukkan bahwa fungsi liver sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Tingkat kematian pada kanker hati juga sangat tinggi.
"Beberapa faktor resiko yang berhubungan dengan perlemakan hati yaitu obesitas, wanita, diabetes atau kolesterol tinggi, konsumsi alkohol, serta riwayat keluarga dengan penyakit perlemakan hati (genetik). Selain itu perlemakan hati juga berhubungan erat dengan penyakit jantung, stroke, demensia (kepikunan), dan Policystic Ovarial Syndrome (infertilitas pada wanita), yang secara keseluruhan disebut sindroma metabolik," lanjutnya.
Namun anda jangan khawatir, jika anda tidak terlambat dalam memeriksakan diri ke dokter maka kondisi perlemakan hati dapat dicegah agar tidak berlanjut menjadi kerusakan hati tahap akhir.
Dan yang tak kalah penting adalah perbaiki pola hidup anda, makan tinggi serat, kurangi lemak gula, olahraga rutin serta lakukan medical check up jika anda ada keluhan atau faktor resiko perlemakan hati. (kr/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh