Jangan Cuma Pasrah! Kehadiran Ayah sejak Istri Hamil Ternyata Jadi Vitamin Pertama Anak

M Adhi Surya • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 11:00 WIB
“Ketika seorang ayah hadir secara utuh sejak awal masa kehamilan, ia sedang meletakkan batu pertama bagi lahirnya generasi penerus yang sehat, cerdas, dan tangguh.” Bd. Tyas Edi Winarsih, Praktisi dan edukator kesehatan ibu dan anak, Owner Klinik Bidanku Tyas Edi Sumbersari.
“Ketika seorang ayah hadir secara utuh sejak awal masa kehamilan, ia sedang meletakkan batu pertama bagi lahirnya generasi penerus yang sehat, cerdas, dan tangguh.” Bd. Tyas Edi Winarsih, Praktisi dan edukator kesehatan ibu dan anak, Owner Klinik Bidanku Tyas Edi Sumbersari.

Radar Jember - Sosok pria kerap kali baru merasa benar-benar menjadi seorang ayah ketika mendengar tangisan pertama buah hatinya di ruang bersalin.

Padahal, ikatan spiritual dan biologis seorang ayah terhadap tumbuh kembang anak tidak dimulai saat persalinan usai, melainkan sejak garis merah dua muncul di alat tes kehamilan.

Langkah untuk menyadarkan pentingnya pendampingan suami ini ditegaskan oleh praktisi dan edukator kesehatan ibu dan anak, Bd. Tyas Edi Winarsih. Menurutnya, cara pandang lama yang menyerahkan urusan reproduksi dan pengasuhan hanya kepada ibu harus diubah.

Baca Juga: Ratusan Karyawan PTPN 1 Regional 5 Ikut Partisipasi Tajemtra 2026

“Selama ini kita salah alamat. Kita menaruh seluruh beban kehamilan, persalinan, KB, pengasuhan, dan stunting di pundak ibu. Padahal sejak awal, semesta sudah menciptakan ayah untuk berjalan di sampingnya. Kehadiran ayah bukan pelengkap. Ia adalah kebutuhan,” tegasnya.

Ketika seorang suami aktif terlibat mulai dari menemani pemeriksaan rutin, mendengarkan keluh kesah kehamilan, hingga memastikan asupan nutrisi istri terpenuhi tingkat stres pada ibu hamil menurun secara signifikan.

Stres yang terkendali pada ibu secara langsung menekan produksi hormon kortisol yang dapat mengganggu aliran darah serta perkembangan otak janin.

Sebaliknya, rasa aman yang dihadirkan oleh sentuhan dan perhatian suami memicu pelepasan hormon oksitosin pada ibu.

Hormon kebahagiaan ini tidak hanya memperlancar sirkulasi nutrisi melalui plasenta, tetapi juga menjadi pondasi penting bagi pembentukan sistem saraf dan organ tubuh janin yang optimal.

Baca Juga: Imbas Erupsi Anak Krakatau: Sejumlah Bandara Tutup, Kemenpar Imbau Wisatawan

Peran aktif ini makin krusial saat memasuki fase tumbuh kembang balita, khususnya dalam upaya pencegahan stunting.

Pencegahan stunting bukan sekadar urusan memberikan makanan bergizi, melainkan tentang menghadirkan pengasuhan yang setara, di mana ayah ikut bertanggung jawab memantau pola makan dan kebersihan lingkungan anak.

Interaksi fisik dan emosional antara ayah dan anak, seperti bermain bersama atau sekadar mendampingi saat anak rewel, memberikan rangsangan kognitif yang unik.

Anak yang tumbuh dengan kehadiran figur ayah yang hangat cenderung memiliki kecerdasan emosional yang lebih stabil, rasa percaya diri yang tinggi, serta kemampuan adaptasi sosial yang lebih baik.

Bd. Tyas menekankan bahwa tangisan maupun keluhan balita sejatinya bukanlah gangguan, melainkan bentuk komunikasi awal.

Menurutnya, kehadiran ayah sejak masa kehamilan merupakan vitamin pertama bagi kehidupan yang akan membentuk ketahanan emosional serta mental anak hingga tumbuh dewasa.

Baca Juga: Melaut Kini Lebih Tenang, Pemkab Jember Proteksi Ratusan Nelayan Lewat BPJS Ketenagakerjaan

Mengubah pola pikir masyarakat agar menempatkan sosok suami sebagai pilar utama kesehatan keluarga bukan sekadar penonton di luar kamar bersalin adalah langkah krusial.

“Ketika seorang ayah hadir secara utuh sejak awal masa kehamilan, ia sedang meletakkan batu pertama bagi lahirnya generasi penerus yang sehat, cerdas, dan tangguh,” pungkasnya. (dhi/bud)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
kehamilan peran ayah dalam mendidik anak parenting