Waspada Bruxism! Stres Tak Terkelola Bisa Ganggu Kesehatan Gigi dan Memicu Bau Mulut, Ini Penjelasan Dokter Gigi

M Adhi Surya • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:00 WIB
“Dampak stres bisa konsumsi makanan atau minuman yang semakin tak beraturan, minum-minuman keras, atau hal lain yang berdampak langsung terhadap kesehatan gigi.” drg HINDUN MARDIYANA, Dokter Gigi H2Dental Care Jember. (DOKUMENTASI RADAR JEMBER)
“Dampak stres bisa konsumsi makanan atau minuman yang semakin tak beraturan, minum-minuman keras, atau hal lain yang berdampak langsung terhadap kesehatan gigi.” drg HINDUN MARDIYANA, Dokter Gigi H2Dental Care Jember. (DOKUMENTASI RADAR JEMBER)

Radar Jember - Stres tidak hanya memengaruhi pikiran dan kondisi tubuh. Tekanan yang berlangsung terus-menerus juga bisa berdampak pada kesehatan gigi, salah satunya melalui kebiasaan mengatupkan atau menggesekkan gigi tanpa disadari.

Dokter Gigi H2Dental Care, drg Hindun Mardiyana, menjelaskan tekanan psikologis dapat membuat otot di sekitar rahang menjadi lebih tegang. Kondisi tersebut bisa memicu kebiasaan bruxism, terutama saat seseorang sedang tidur.

Kebiasaan menggesekkan gigi secara berulang membuat gigi menerima tekanan lebih besar. Jika berlangsung dalam waktu lama, permukaan gigi dapat lebih cepat terkikis.

Baca Juga: Bukan Cuma Tindakan Medis! Dosen Unmuh Jember Beberkan Pentingnya Spiritual Care bagi Pasien Kritis

Lapisan pelindung gigi yang menipis juga bisa membuat gigi menjadi lebih sensitif terhadap makanan dan minuman tertentu.

Dampaknya tidak hanya terasa pada gigi. Rahang dapat menjadi pegal karena otot terus bekerja, terutama setelah bangun tidur.

Pada sebagian orang, kondisi tersebut juga dapat disertai rasa tidak nyaman di sekitar wajah hingga sakit kepala. Pola makan yang berubah ketika seseorang mengalami stres juga perlu diperhatikan.

Keinginan mengonsumsi makanan atau minuman manis dapat meningkat. Jika sisa gula tidak dibersihkan dengan baik, bakteri di dalam rongga mulut akan lebih mudah berkembang dan menghasilkan asam yang dapat merusak enamel.

“Dampak stres bisa konsumsi makanan atau minuman yang semakin tak beraturan, minum-minuman keras, atau hal lain yang berdampak langsung terhadap kesehatan gigi,” tuturnya.

Baca Juga: Bikin Otak dan Tulang Makin Optimal! Dokter Spesialis Anak Jember Ungkap Manfaat Penting Anak Rajin Bergerak

Kebersihan gigi menjadi bagian penting dalam mencegah masalah tersebut. Sisa makanan yang menempel, terutama makanan atau minuman manis, tidak hanya meningkatkan risiko gigi berlubang, tetapi juga dapat memicu bau mulut.

“Kebersihan gigi dan sisa makanan atau minuman manis yang tertinggal juga sangat berpengaruh pada bau mulut,” ujar Hindun.

Karena itu, menjaga kesehatan gigi perlu dilakukan bersamaan dengan mengelola stres. Menyikat gigi secara teratur, membatasi konsumsi makanan dan minuman manis, mencukupi kebutuhan air putih, serta menjaga pola hidup dapat membantu mengurangi risiko gangguan pada gigi dan mulut.

Hindun menyarankan pemeriksaan ke dokter gigi apabila muncul tanda seperti gigi semakin sensitif, permukaan gigi terlihat terkikis, rahang sering terasa pegal, atau ada kebiasaan menggemeretakkan gigi saat tidur.

Penanganan lebih awal dapat membantu mencegah kerusakan berkembang menjadi lebih berat. (dhi/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
dental care bau mulut kesehatan gigi