Radar Jember – Ruang perawatan tidak selalu diisi suara alat medis dan instruksi dokter. Ada pasien yang lebih banyak diam karena cemas, ada keluarga yang kebingungan ketika kondisi orang terdekatnya memburuk.
Dalam situasi seperti itu, kebutuhan pasien tidak berhenti pada obat dan tindakan medis. Ada sisi lain yang ikut membutuhkan perhatian ketenangan batin.
Dosen Fikes Unmuh Jember Dr Wahyudi Widada menilai aspek spiritual perlu mendapat perhatian dalam pelayanan keperawatan. Terlebih pada pasien kritis yang berada dalam kondisi rentan, baik secara fisik maupun mental.
Menurutnya, perawat menjadi salah satu tenaga kesehatan yang paling sering berada di sisi pasien. Posisi tersebut membuat perawat bukan hanya bertugas menjalankan tindakan keperawatan, tetapi juga memiliki ruang untuk memberikan pendampingan ketika pasien menghadapi kecemasan, ketakutan, maupun pergulatan menghadapi penyakit.
“Pasien bukan hanya membutuhkan perawatan fisik. Ada kebutuhan psikologis dan spiritual yang juga harus diperhatikan. Di sinilah perawat bisa memberikan pendampingan sesuai kebutuhan pasien,” ujar Wahyudi.
Pendekatan spiritual, lanjut dia, tidak selalu berbentuk tindakan yang rumit. Kehadiran, komunikasi yang baik, memberi kesempatan pasien berdoa, hingga mendampingi keluarga dalam situasi sulit dapat menjadi bagian dari spiritual care, hal sederhana tersebut bisa memberi rasa tenang bagi pasien yang tengah menghadapi masa berat.
Wahyudi juga mencontohkan pengalaman sejumlah pasien yang diangkat dalam pembahasan, mulai penderita kanker payudara stadium 3B, pasien kanker pankreas, hingga keluarga yang mendampingi orang terkasih menjelang ajal.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sakit seringkali membawa persoalan yang jauh lebih dalam daripada sekadar keluhan fisik.
Doa juga menjadi bagian dari pendampingan spiritual, salah satunya doa Nabi Ayyub AS yang menggambarkan kesabaran ketika menghadapi penyakit.
Ada pula bacaan Alquraan yang dapat digunakan dalam pendampingan sesuai konteks, seperti Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas.
Bagi Wahyudi, keperawatan yang menyeluruh berarti melihat manusia sebagai satu kesatuan. Tubuh membutuhkan tindakan medis, sementara hati dan pikiran membutuhkan rasa aman.
Karena itu, spiritual care bukan pengganti pengobatan. Melainkan bagian dari cara perawat hadir lebih utuh di sisi pasien ketika proses penyembuhan tidak hanya membutuhkan obat, tetapi juga ketenangan. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh