Benarkah Perempuan Lebih Perasa? Psikolog Menilai Ada Pengaruh Pola Asuh dan Lingkungan, Bukan Sekadar Kodrat

Redaksi Radar Jember • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 07:26 WIB
Perempuan dinilai lebih perasa (PNGTREE)
Perempuan dinilai lebih perasa (PNGTREE)

RADAR JEMBER – Anggapan bahwa perempuan selalu lebih perasa atau lebih emosional dibanding laki-laki masih sering terdengar dalam kehidupan sehari-hari maupun media sosial.

Namun, sejumlah kajian psikologi menunjukkan bahwa stereotip tersebut tidak sepenuhnya tepat. Perbedaan dalam cara perempuan dan laki-laki mengekspresikan emosi dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari pola asuh, lingkungan sosial, hingga norma budaya, bukan semata-mata karena faktor biologis.

Berbagai penelitian menyebutkan bahwa sejak kecil anak perempuan dan laki-laki kerap menerima pola pengasuhan yang berbeda.

Anak perempuan umumnya lebih didorong untuk mengungkapkan kesedihan atau empati, sementara anak laki-laki sering diajarkan untuk menahan tangisan dan menunjukkan ketegaran.

Baca Juga: Jangan Tunggu Nikah! Ini Alasan Penting Kenapa Remaja Perempuan Wajib Rawat Kesehatan Rahim Sejak Dini

Perbedaan proses sosialisasi tersebut dapat membentuk cara seseorang mengekspresikan emosi ketika dewasa.

Kajian yang diterbitkan dalam Journal of Social Issues juga menegaskan bahwa stereotip mengenai perempuan yang lebih emosional cenderung melebih-lebihkan perbedaan yang sebenarnya.

Peneliti menyimpulkan bahwa ketika terdapat perbedaan ekspresi emosi antara perempuan dan laki-laki, hal itu lebih banyak dipengaruhi oleh peran gender, status sosial, dan pengalaman hidup dibanding faktor bawaan semata.

Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian yang dikutip Scientific Reports, penelitian terhadap 142 laki-laki dan perempuan selama 75 hari menemukan adanya variasi pengalaman emosi pada kedua kelompok.

Baca Juga: Jantung Berdebar dan Mata Kabur? Dokter Spesialis RS Siloam Jember Peringatkan Bahaya Hipertensi Tanpa Gejala

Hasilnya menunjukkan bahwa emosi manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi biologis, situasi, dan lingkungan, sehingga tidak dapat disimpulkan bahwa satu jenis kelamin secara umum selalu lebih emosional daripada yang lain.

Dengan demikian, pandangan bahwa perempuan pasti lebih perasa daripada laki-laki merupakan penyederhanaan yang tidak sepenuhnya didukung bukti ilmiah.

Psikologi modern melihat kemampuan mengelola maupun mengekspresikan emosi sebagai hasil interaksi antara faktor biologis, pola asuh, pengalaman, dan budaya.

Karena itu, setiap individu memiliki karakter emosional yang berbeda, terlepas dari jenis kelaminnya.

Penulis : Siti Roihani

Editor : Imron Hidayatullahh
Kesehatan Mental Perempuan Psikologi