Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sering Dikira Wajar Karena Faktor Usia! Psikolog Jember Ungkap Gejala Awal Pikun yang Ternyata Bahaya Bagi Lansia

Sidkin • Kamis, 28 Mei 2026 | 10:15 WIB
“Menjaga aktivitas kognitif, fisik, dan sosial merupakan hal yang esensial untuk menjamin kesehatan lansia." NURUL RACHMI, Psikolog Klinik Psikologi RS Bina Sehat Jember. (DOK. NURUL RACHMI)
“Menjaga aktivitas kognitif, fisik, dan sosial merupakan hal yang esensial untuk menjamin kesehatan lansia." NURUL RACHMI, Psikolog Klinik Psikologi RS Bina Sehat Jember. (Ilustrasi diolah dengan AI)

Radar Jember - Menjaga kesehatan lansia ternyata tidak cukup hanya dengan memberi waktu istirahat di rumah.

Lansia justru perlu tetap aktif secara fisik, kognitif, dan sosial agar kemampuan berpikir maupun kondisi tubuhnya tetap terjaga seiring bertambahnya usia.

Aktivitas sederhana seperti rutin berinteraksi, mengikuti kegiatan komunitas, hingga belajar hal baru dinilai penting untuk membantu mencegah penurunan fungsi kognitif atau kepikunan pada lansia.

Psikolog Klinik Psikologi Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) Jember, Nurul Rachmi menjelaskan, masih banyak masyarakat yang menganggap pikun sebagai bagian alami dari proses penuaan.

Baca Juga: Bukan Cuma Dirawat, Psikolog Jember Bongkar Fondasi Penting biar Lansia Terhindar dari Depresi!

Padahal, pikun atau demensia merupakan kondisi penurunan fungsi kognitif seperti daya ingat, kemampuan berpikir, dan pemahaman yang sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut lebih dari sekadar lupa biasa.

"Ini dapat dikenali melalui berbagai gejala seperti sering lupa kejadian yang baru terjadi, mengulang pertanyaan yang sama, hingga perubahan suasana hati (mood, Red) yang drastis," jelasnya.

Menurut Nurul, menjaga aktivitas sosial dan terus belajar hal baru memang dapat membantu memperlambat risiko demensia pada lansia.

Dia menyebut, upaya pencegahan sejak dini penting dilakukan karena sebagian besar faktor risiko demensia sebenarnya masih bisa dikendalikan.

Baca Juga: Ogah Berdiam Diri dan Bosan di Rumah, Lansia di Tegal Besar Jember Asah Kreativitas Bikin Kerajinan Tangan!

Salah satu caranya ialah dengan menjaga lansia tetap aktif secara kognitif, fisik, dan sosial sejak usia paruh baya hingga lanjut usia.

Dia menerangkan, kegiatan kreatif, pelatihan keterampilan, hingga aktivitas komunitas bukan sekadar pengisi waktu bagi lansia.

Aktivitas tersebut terbukti secara ilmiah membantu menjaga kemampuan berpikir, kestabilan emosi, serta kualitas hidup lansia.

"Selain menjaga fungsi otak tetap aktif, aktivitas fisik juga penting untuk mempertahankan massa otot dan juga memenuhi kebutuhan psikologis untuk merasa bermanfaat," terangnya.

Nurul menambahkan, kurangnya aktivitas fisik justru dapat meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif, gangguan emosional seperti kecemasan dan depresi, hingga memperbesar risiko cedera akibat menurunnya kekuatan otot.

Baca Juga: Bukan Sekadar Belajar, Ketua Selantang Jember Bongkar Rahasia Lansia Tetap Bahagia dan Percaya Diri lewat Hal Ini

Karena itu, lansia dianjurkan rutin melakukan aktivitas yang melatih otak seperti membaca, mengisi teka-teki silang, atau mempelajari keterampilan baru, disertai olahraga teratur dan pola makan sehat.

“Menjaga aktivitas kognitif, fisik, dan sosial merupakan hal yang esensial untuk menjamin kesehatan lansia,” pungkasnya. (kin/dwi)

Editor : Imron Hidayatullahh
#kesehatan lansia #RS Bina Sehat Jember #demensia #psikolog #Lansia