Radar Jember – Setelah Idul Adha, keluhan tekanan darah tinggi kerap meningkat. Tak sedikit masyarakat langsung menuding daging kurban, khususnya kambing sebagai biang keladinya.
Anggapan itu terus berulang setiap tahun, seolah daging kambing identik dengan lonjakan tensi.
Dokter spesialis penyakit dalam RS Siloam Jember, dr Agus Yudho Santosa SpPD FINASIM, meluruskan pandangan tersebut.
Menurutnya, daging kurban bukan penyebab utama hipertensi. Persoalan justru terletak pada cara masyarakat mengolah daging sebelum disantap,
“Yang sering bikin tekanan darah naik itu bukan dagingnya, tapi tambahan natrium dari bumbu dan cara memasaknya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, banyak menu olahan kurban dimasak dengan kecap asin, santan kental, garam berlebih, minyak goreng, hingga penyedap rasa dalam jumlah besar.
Kandungan natrium yang tinggi itulah yang membuat tekanan darah lebih mudah melonjak, terutama bagi mereka yang memang punya riwayat hipertensi.
Kebiasaan menyajikan daging dengan cita rasa gurih dan manis pekat menjadi pemicu yang sering luput disadari.
Semakin kaya bumbu, biasanya semakin tinggi pula kadar garam tersembunyi di dalamnya.
“Jika dikonsumsi terus-menerus dalam beberapa hari setelah Lebaran, maka tubuh bisa bereaksi dengan kenaikan tekanan darah,” ucap Yudho yang pernah meraih penghargaan dokter teladan 2023 lalu.
dr Agus mengingatkan, hipertensi sendiri dikenal sebagai silent killer. Penyakit ini sering tidak menunjukkan gejala jelas meski tekanan darah sudah berada di atas batas normal, yakni 140/90 mmHg.
Banyak orang merasa tubuhnya baik-baik saja padahal kerusakan organ sedang berlangsung perlahan. Tekanan darah tinggi yang tak terkontrol dapat merusak jantung, otak, ginjal, mata, hingga pembuluh darah.
Kondisi ini baru disadari ketika komplikasi muncul, mulai pusing berat, gangguan penglihatan, nyeri dada, hingga serangan stroke.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak buru-buru menyalahkan daging kurban. Selama diolah dengan cara sehat, seperti direbus, dipanggang tanpa banyak garam, atau dimasak dengan bumbu alami secukupnya, daging tetap aman dikonsumsi.
“Kuncinya ada pada keseimbangan menu dan porsi makan,” tutur pria yang konsisten donor darah lebih dari 100 kali itu.
Ia juga mengimbau masyarakat rutin memeriksa tekanan darah, meski merasa sehat. Jangan menunggu tubuh memberi sinyal bahaya.
“Hipertensi sering datang diam-diam. Yang perlu diwaspadai bukan dagingnya, tetapi kebiasaan mengolah dan pola makan kita sendiri,” pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh