Radar Jember - Kanker serviks masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan.
Upaya pencegahan pun terus didorong, salah satunya melalui vaksinasi HPV yang digelar Balai POM di Jember, Rabu (8/4).
Pelaksanaan vaksinasi berlangsung tertib. Peserta datang silih berganti, menjalani screening sebelum menerima vaksin, lalu masuk ke tahap observasi.
Dari remaja hingga perempuan dewasa, seluruhnya mengikuti alur yang telah disiapkan tanpa antre lama.
Baca Juga: Lanjutan Update Kasus Curanmor SPPG di Jember, Komplotan Pelaku Diduga Empat Orang?
Kegiatan ini merupakan bagian dari program sejuta vaksin HPV yang digagas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bekerja sama dengan Korpri.
Awalnya program ini menyasar aparatur sipil negara (ASN), tapi kini diperluas untuk masyarakat umum sebagai langkah percepatan eliminasi kanker serviks di Indonesia.
Kepala Balai POM di Jember, Benny Hendrawan Prabowo, menjelaskan, vaksinasi kali ini merupakan lanjutan dari tahap sebelumnya.
Yakni pemberian vaksin HPV dosis ke-2. Sebelumnya sudah diberikan dosis pertama pada Januari. "Memang direncanakan tiga dosis, tapi hari ini juga ada peserta baru yang menerima dosis pertama,” ujarnya.
Baca Juga: Info Lalin Jember Banyuwangi di Jalur Gumitir: Nekat Mendahului Kendaraan di Jalan Menikung
Ia menegaskan, pentingnya vaksin HPV sebagai langkah pencegahan. Sebagaimana diketahui, kanker serviks merupakan tumor ganas pada leher rahim yang umumnya disebabkan oleh infeksi virus Human Papillomavirus (HPV) risiko tinggi.
“Kanker serviks ini pembunuh nomor dua pada perempuan. Maka pencegahannya salah satunya melalui vaksin HPV,” imbuhnya.
Antusiasme peserta pun meningkat. Dari sebelumnya sekitar 287 orang pada dosis pertama, kini jumlah pendaftar mencapai lebih dari 320 orang. Hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat mulai tumbuh, apalagi akses vaksin semakin terbuka.
Salah satu peserta, Ester Yuliana, mengaku mengetahui informasi kegiatan ini dari media sosial. Ia sempat melewatkan kesempatan pertama. Namun, ia tidak ingin mengulang hal yang sama.
“Awalnya tahu tapi sudah lewat dua hari. Sekarang ikut karena penting. Kalau di luar bisa sampai sejuta lebih, di sini hanya Rp 300 ribu,” ungkap guru SD Benih Harapan itu.
Bagi Ester, vaksin ini menjadi bentuk perlindungan diri, khususnya sebagai perempuan yang sudah berkeluarga. Ia menyadari risiko kanker serviks yang cukup tinggi.
“Karena itu jadi salah satu pembunuh tertinggi perempuan, jadi penting sebagai langkah pencegahan. Ada fasilitas seperti ini ya dimanfaatkan,” tuturnya. (kin/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh