Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Waspada 'Mager' dan Junk Food: Dokter Spesialis RS Bina Sehat Jember Ungkap Risiko Perlemakan Hati Pemicu Kanker

Dwi Siswanto • Selasa, 24 Maret 2026 | 09:00 WIB
"Hati adalah organ terbesar dalam tubuh yang memegang banyak fungsi seperti penyaringan racun, sebagai pabrik energi, serta tempat diproduksinya berbagai substansi penting seperti albumin, vitamin, dan zat koagulasi darah.” dr HANA NADYA SpPD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Bina Sehat Jember. (RSBS)
"Hati adalah organ terbesar dalam tubuh yang memegang banyak fungsi seperti penyaringan racun, sebagai pabrik energi, serta tempat diproduksinya berbagai substansi penting seperti albumin, vitamin, dan zat koagulasi darah.” dr HANA NADYA SpPD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Bina Sehat Jember. (RSBS)

Radar Jember - Kebiasaaan mengonsumsi makanan junk food atau makanan cepat saji yang tinggi lemak dan gula kini semakin sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ditambah dengan pola aktivitas yang minim gerak atau malas gerak (mager). Kondisi tersebut dapat memicu obesitas yang berdampak pada berbagai masalah kesehatan, salah satunya penyakit perlemakan hati.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Bina Sehat Jember, dr Hana Nadya SpPD menjelaskan bahwa hati merupakan organ terbesar dalam tubuh yang memiliki banyak fungsi penting.

Baca Juga: Respon Gus Fawait Terkait Ledakan di Masjid Patrang Jember: Minta Warga Tetap Tenang dan Tidak Spekulasi Berlebih

"Hati adalah organ terbesar dalam tubuh yang memegang banyak fungsi seperti penyaringan racun, sebagai pabrik energi, serta tempat diproduksinya berbagai substansi penting seperti albumin, vitamin, dan zat koagulasi darah," jelasnya.

Ia mengatakan, obesitas dapat memicu kerusakan hati melalui penumpukan lemak yang berlebihan di dalam organ tersebut. Kondisi ini biasanya dipicu oleh konsumsi makanan tinggi lemak dan gula dalam jangka waktu lama.

Akibatnya, rongga-rongga di dalam hati yang seharusnya ditempati oleh sel hati akan dipenuhi oleh lemak dalam jumlah besar.

Lemak tersebut kemudian mengalami proses esterifikasi atau perubahan bentuk menjadi senyawa ester yang memicu terjadinya peradangan pada hati.

Baca Juga: Begini Kata Kapolda Jatim Usai Tragedi Ledakan Masjid di Jember

"Keradangan hati yang terjadi dalam waktu lama akan menyebabkan kerusakan kronis yang memicu munculnya jaringan parut hati atau sirosis, bahkan berpotensi besar menyebabkan kanker hati atau hepatoma," ungkap dr Hana.

Secara medis, perlemakan hati atau hepatosteatosis terjadi ketika jumlah lemak di dalam hati melebihi 5 persen dari total berat organ tersebut.

Pada tahap awal, perlemakan hati sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Beberapa pasien hanya merasakan keluhan ringan seperti rasa tidak nyaman di perut bagian atas, mual, hingga rasa sebah. Bahkan, tidak sedikit penderita yang tidak merasakan gejala sama sekali.

Namun, jika kondisi sudah memasuki tahap kerusakan lanjut atau berkembang menjadi kanker hati, maka gejala yang muncul dapat lebih serius.

Di antaranya perut membengkak, mata menguning, tubuh terasa lemah, hingga penurunan berat badan secara drastis.

Kondisi tersebut menandakan fungsi hati sudah mengalami kerusakan berat dan sulit untuk dipulihkan. Tingkat kematian akibat kanker hati juga diketahui cukup tinggi.

Selain obesitas, terdapat beberapa faktor risiko lain yang dapat memicu perlemakan hati. Di antaranya, diabetes, kadar kolesterol tinggi, konsumsi alkohol berlebihan, serta riwayat keluarga dengan penyakit perlemakan hati.

Baca Juga: Jelang Libur Nyepi dan Idulfitri 1447 H, Okupansi Penumpang di Daop 9 Jember Meningkat Signifikan

Perlemakan hati juga berkaitan erat dengan sejumlah penyakit lain seperti penyakit jantung, stroke, demensia atau kepikunan, serta policystic ovarian syndrome (PCOS) yang dapat menyebabkan gangguan kesuburan pada perempuan. Keseluruhan kondisi tersebut dikenal sebagai sindrom metabolik.

Meski demikian, dr Hana menegaskan bahwa perlemakan hati masih dapat dicegah dan dikendalikan apabila dideteksi sejak dini dan disertai perubahan gaya hidup.

Untuk mencegahnya, masyarakat disarankan menerapkan pola hidup sehat dengan memperbanyak konsumsi makanan tinggi serat, mengurangi makanan tinggi lemak dan gula, rutin berolahraga, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko. (dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#perlemakan hati #risiko kanker #junkfood #Jember #RS Bina Sehat Jember #obesitas #RSBS