Radar Jember - Melatih anak berpuasa di bulan Ramadan sebaiknya dilakukan dengan penuh pertimbangan.
Dokter anak RSD dr Soebandi, dr Nurul Ima Suciwiyati, menekankan bahwa proses belajar puasa harus bertahap dan tidak memaksa kemampuan fisik anak.
Menurut dia, anak yang belum akil balig memang belum memiliki kewajiban berpuasa penuh. Karena itu, orang tua tidak perlu memaksakan puasa sejak subuh hingga magrib.
“Prinsipnya latihan, bukan kewajiban. Jadi jangan dipaksakan satu hari penuh kalau anak belum kuat,” ujarnya.
Ia menyarankan latihan dimulai enam hingga delapan jam terlebih dahulu. Jika anak sudah terbiasa, durasinya, maka bisa ditambah secara perlahan.
“Bisa mulai sampai jam 10 pagi, lalu meningkat menjadi setengah hari. Setelah itu baru dicoba sampai magrib sesuai kemampuan anak,” jelasnya.
Agar anak tidak fokus pada rasa lapar, suasana Ramadan sebaiknya dibuat menyenangkan.
Orang tua bisa melibatkan anak dalam menyiapkan menu berbuka atau mengajak aktivitas ringan menjelang magrib.
“Beri pujian atas usahanya berpuasa supaya mereka termotivasi,” sarannya.
Ia kembali menegaskan, kesehatan tetap menjadi prioritas. Jika anak terlihat sangat lemas, pusing, atau menunjukkan tanda dehidrasi, maka puasa sebaiknya segera dibatalkan.
“Jangan sampai latihan puasa justru mengganggu kesehatan dan tumbuh kembang anak,” tegasnya.
Menurutnya, asupan sahur juga menjadi perhatian penting. Ia menganjurkan agar anak mengonsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, atau roti gandum agar energi bertahan lebih lama.
“Tambahkan protein, sayur, dan buah supaya gizinya tetap seimbang,” katanya.
Makanan terlalu manis atau berminyak saat sahur sebaiknya dibatasi. Menurutnya, jenis makanan tersebut justru membuat anak lebih cepat merasa lapar.
Ia juga menyarankan agar orang tua memberikan variasi menu supaya anak tetap bersemangat saat sahur maupun berbuka.
Kecukupan cairan pun tak boleh diabaikan. Anak perlu minum air putih yang cukup sejak berbuka hingga sahur untuk mencegah dehidrasi.
“Minumnya bertahap di malam hari, jangan sekaligus banyak,” imbuhnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh