Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Perbandingan Risiko Kanker Paru Rokok vs Penyakit Paru Akut Vape: Mana yang Lebih Harus Ditakuti?

M. Ainul Budi • Selasa, 3 Februari 2026 | 11:35 WIB
Foto  ilustrasi rokok - konsumsi rokok besar dalam keluarga jadi penyebab stunting. (Freepik/freepik)
Foto ilustrasi rokok - konsumsi rokok besar dalam keluarga jadi penyebab stunting. (Freepik/freepik)

RADAR JEMBER - Rokok elektrik atau vape telah menciptakan dilema baru dalam kesehatan masyarakat. Jika rokok konvensional dikenal sebagai pembunuh berantai yang bekerja perlahan, menyebabkan penyakit kronis mematikan seperti kanker paru selama puluhan tahun, vape justru memunculkan ancaman yang lebih mendesak dan mendadak.

Penyakit paru akut atau yang dikenal sebagai EVALI (e-cigarette or vaping-associated lung injury). 

Membandingkan kedua risiko ini bukanlah untuk mencari mana yang lebih aman, melainkan untuk memahami mekanisme kerusakan yang berbeda, yang pada akhirnya menegaskan satu hal, tidak ada produk yang benar-benar bebas dari ketakutan.

Ketakutan terhadap rokok konvensional bersumber dari mekanisme kerjanya, yaitu pembakaran tembakau. Proses ini menghasilkan asap yang mengandung lebih dari 7.000 zat kimia, dengan Tar dan Karbon Monoksida sebagai aktor utama. 

Tar adalah residu lengket yang melapisi paru-paru dan mengandung karsinogen yang secara konsisten merusak DNA sel, memicu mutasi yang berujung pada Kanker Paru. Kerusakan ini bersifat kumulatif dan irreversible. 

Risiko ini bekerja dalam jangka waktu yang sangat panjang, seringkali baru termanifestasi setelah 10 hingga 30 tahun merokok.

Meskipun dampaknya lambat, bukti ilmiah mengenai hubungan langsung antara rokok dan kanker paru sangat kuat dan tidak terbantahkan, menjadikannya salah satu penyebab kematian teratas di dunia.

Sebaliknya, vape menghasilkan ancaman yang cepat dan dramatis, karena tidak melalui pembakaran, vape tidak menghasilkan tar atau karbon monoksida, namun proses pemanasan cairan (liquid) menghasilkan aerosol yang mengandung partikel halus dan zat kimia yang berpotensi memicu reaksi inflamasi akut. 

Kasus EVALI, yang pertama kali diidentifikasi secara luas pada tahun 2019, menunjukkan bahwa vape dapat menyebabkan kegagalan pernapasan mendadak hanya dalam hitungan hari atau minggu. 

Meskipun penyebab pastinya kompleks, EVALI banyak dikaitkan dengan inhalasi zat aditif tertentu, terutama Vitamin E Asetat yang ditemukan dalam cairan vape yang mengandung THC (walaupun kasus pada nicotine-based liquid juga ada). 

EVALI menyebabkan gejala pernapasan berat seperti sesak napas dan nyeri dada, membutuhkan perawatan intensif, dan dalam banyak kasus berakhir fatal.

Baca Juga: Dua Pabrik Rokok Kebagian BLT Tahap Kedua, Dinsos P3KB Bondowoso Sebut Ada 71 Buruh Sebagai Penerima

Mana yang lebih harus ditakuti? Jawabannya terletak pada tingkat kepastian dan kecepatan. Kanker paru (dari rokok) adalah risiko yang pasti jika dikonsumsi dalam jangka panjang, ini adalah epidemi yang didorong oleh kecanduan massal selama puluhan tahun.

Di sisi lain, EVALI (dari vape) adalah risiko yang akut dan mendadak, ia menyerang tanpa peringatan, seringkali pada pengguna muda. 

Meskipun data historis menunjukkan rokok membunuh lebih banyak orang secara total, EVALI membawa ketakutan unik karena kemampuannya menghancurkan paru-paru dalam waktu singkat. 

Bagi remaja yang baru mulai menggunakan vape, mereka mungkin tidak khawatir tentang kanker 20 tahun ke depan, tetapi risiko EVALI yang muncul dalam sebulan jauh lebih menakutkan dan nyata.

Baik risiko kanker kronis dari rokok maupun risiko EVALI akut dari vape, keduanya merupakan harga yang terlalu mahal untuk dibayar.

Rokok konvensional adalah ancaman yang teruji waktu dengan konsekuensi yang lambat namun mematikan. Vape adalah ancaman modern yang aksinya cepat, menimbulkan risiko yang tidak sepenuhnya dipahami oleh sains, dan berpotensi merusak paru-paru secara ireversibel dalam hitungan hari. 

Oleh karena itu, bagi pengguna, tidak ada pilihan yang lebih baik selain berhenti total dari semua produk nikotin. Kesehatan paru-paru harus selalu menjadi prioritas dan menghindari pembakaran maupun pemanasan zat kimia ke dalam tubuh merupakan satu-satunya cara untuk menjamin keamanan jangka panjang dan menghindari penyakit akut.

Penulis: Inas Masyura 

Editor : M. Ainul Budi
#kanker paru #vape #Rokok