Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Benarkah Kanker Pankreas Si Diam-Diam Mematikan? Ini Penjelasan Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSBS Jember

Redaksi Radar Jember • Selasa, 4 November 2025 | 22:42 WIB
dr HANA NADYA Sp PD  Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSBS
dr HANA NADYA Sp PD Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSBS

 

KALIWATES, Radar Jember - Kanker pankreas dikenal sebagai salah satu jenis kanker paling mematikan di dunia. Karena gejalanya sering tidak khas dan baru muncul pada tahap lanjut, penyakit ini dijuluki sebagai “silent killer” atau si “diam-diam mematikan”.

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Bina Sehat (RSBS) Jember, dr Hana Nadya SpPD, kanker pankreas terjadi akibat pertumbuhan sel-sel ganas pada organ pankreas. Yaitu kelenjar yang terletak di belakang lambung dan berfungsi memproduksi enzim pencernaan serta hormon seperti insulin dan glukagon.

“Letaknya yang tersembunyi membuat kanker pankreas sulit terdeteksi sejak awal. Sebagian besar pasien baru diketahui menderita kanker ketika penyakitnya sudah menyebar ke organ lain,” jelas dr Hana.

Kanker pankreas termasuk dalam 10 besar penyebab kematian akibat kanker di dunia. Di Indonesia, kasusnya memang tidak sebanyak kanker payudara atau paru, tetapi tingkat kematiannya sangat tinggi. Diperkirakan lebih dari 80 persen kasus baru ditemukan pada stadium lanjut.

 Gejala awal penyakit ini sering menyerupai gangguan pencernaan biasa, seperti mual, perut kembung, atau rasa cepat kenyang. Namun, ada beberapa tanda khas yang perlu diwaspadai, seperti nyeri perut bagian atas atau punggung yang menetap, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, kulit dan mata menguning (jaundice), urin berwarna gelap, dan tinja pucat.

“Kadang muncul diabetes baru tanpa riwayat sebelumnya. Ini bisa menjadi petunjuk awal adanya gangguan pada pankreas,” tambahnya.

Dokter Hana menambahkan, untuk menegakkan diagnosis kanker pankreas membutuhkan serangkaian pemeriksaan. Pemeriksaan darah dilakukan untuk melihat fungsi hati dan pankreas, serta kadar penanda tumor CA 19-9 yang bisa meningkat pada kasus ini.

Selanjutnya, pemeriksaan pencitraan seperti USG, CT scan, atau MRI digunakan untuk melihat ukuran dan penyebaran tumor. Salah satu metode modern adalah Endoscopic Ultrasound (EUS), alat endoskopi yang dilengkapi sensor USG untuk melihat pankreas dari dalam lambung.

“Diagnosis pasti hanya bisa ditegakkan lewat biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan pankreas untuk diperiksa di bawah mikroskop,” ujarnya.

Pilihan, tambah dia, pengobatan kanker pankreas tergantung pada stadium penyakit, kondisi pasien, serta lokasi tumor.

Operasi menjadi satu-satunya metode yang berpotensi menyembuhkan, tetapi hanya bisa dilakukan jika kanker belum menyebar. Kemoterapi dan radioterapi menjadi pilihan lain untuk memperlambat pertumbuhan sel kanker dan memperpanjang harapan hidup pasien. Pada stadium akhir, perawatan paliatif diberikan untuk mengurangi nyeri, mengatasi sumbatan empedu, serta menjaga kualitas hidup.

“Sayangnya, karena banyak pasien datang dalam kondisi sudah lanjut, angka harapan hidupnya rendah. Rata-rata kelangsungan hidup lima tahun hanya sekitar 10 hingga 12 persen,” kata dr. Hana.

Meski demikian, lanjut Dokter Hana, harapan tetap ada. Jika kanker pankreas terdeteksi pada stadium awal dan segera ditangani dengan operasi, maka angka harapan hidup bisa meningkat hingga 30–40 persen.

Skrining kanker pankreas disarankan bagi mereka yang memiliki risiko tinggi, seperti orang dengan riwayat keluarga kanker pankreas, perokok berat, penderita pankreatitis kronik, diabetes baru yang muncul di usia tua tanpa penyebab jelas, obesitas, dan konsumsi alkohol jangka panjang.

“Jangan abaikan keluhan perut yang tidak kunjung membaik. Pemeriksaan dini ke dokter bisa menjadi langkah penyelamat. Bagi kelompok berisiko, dokter dapat menganjurkan pemeriksaan rutin menggunakan USG atau MRI pankreas setiap satu hingga dua tahun sekali," pungkasnya. (kr/dwi)

Editor : M. Ainul Budi
#Jember #kanker pankreas #RSBS