Radar Jember – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan adanya peningkatan jumlah kasus Covid-19 dalam pekan ke-22 tahun 2025, yang berlangsung dari 25 hingga 31 Mei.
Sebanyak 72 kasus terkonfirmasi dalam sepekan tersebut, termasuk 7 kasus baru yang ditemukan pada minggu sebelumnya.
Tingkat positivity rate nasional saat ini tercatat sebesar 3,6 persen, yang berarti bahwa lebih dari 3 dari setiap 100 orang yang dites Covid-19 dinyatakan positif.
Meski angka tersebut masih berada di bawah ambang batas kewaspadaan WHO yang berkisar di angka 5 persen, Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kewaspadaan.
Menurut Juru Bicara Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, sebagian besar pasien yang terkonfirmasi positif menunjukkan gejala ringan hingga sedang, dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit.
Gejala covid yang paling banyak dilaporkan meliputi batuk, pilek, demam ringan, sakit tenggorokan, dan kelelahan. Sementara itu, gejala anosmia (hilangnya kemampuan penciuman), yang dulu umum terjadi pada varian awal Covid-19, kini sangat jarang ditemukan.
“Sejauh ini belum ada peningkatan signifikan dalam angka rawat inap maupun kematian. Tetapi kami tetap mengimbau masyarakat untuk menjaga protokol kesehatan, terlebih jika berada di lingkungan padat atau tertutup,” ujar dr. Nadia dalam konferensi pers daring, Senin (9/6).
Varian yang mendominasi saat ini adalah MB.1.1, subvarian dari Omicron.
Meski relatif lebih ringan dalam gejala, MB.1.1 tetap memiliki tingkat penularan yang tinggi, terutama di lingkungan yang kurang ventilasi.
Kemenkes juga masih terus memantau kemungkinan masuknya subvarian baru seperti NB.1.8.1 (Nimbus) yang saat ini sedang menyebar di lebih dari 20 negara.
Langkah Antisipasi Diperkuat
Sebagai bentuk antisipasi, pemerintah melalui laboratorium-laboratorium rujukan nasional terus melakukan whole genome sequencing (WGS) untuk memantau mutasi virus yang beredar.
Selain itu, fasilitas layanan kesehatan di daerah juga telah diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pasien dengan gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Di sisi lain, Kemenkes kembali mengingatkan pentingnya vaksinasi booster.
Meski cakupan vaksinasi dasar di Indonesia cukup tinggi, tingkat vaksinasi booster (penguat) masih belum merata, terutama di wilayah terpencil dan pada kelompok rentan seperti lansia dan penderita komorbid.
“Masyarakat yang sudah mendapatkan vaksin booster lebih terlindungi dari gejala berat, bahkan terhadap varian baru yang muncul. Vaksin masih menjadi alat perlindungan paling efektif yang kita miliki,” tambah dr. Nadia.
Imbauan bagi Masyarakat
Pemerintah meminta masyarakat untuk tidak panik namun tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan dasar, yaitu:
- Mengenakan masker saat berada di tempat umum, terutama ruang tertutup
- Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara rutin
- Menjaga jarak fisik, terutama jika mengalami gejala flu
- Menghindari aktivitas di luar rumah jika merasa tidak sehat
- Segera melakukan tes antigen atau PCR jika muncul gejala mencurigakan
Kondisi Indonesia saat ini masih tergolong terkendali, namun peningkatan kasus dalam skala global menjadi peringatan bahwa virus SARS-CoV-2 masih terus bermutasi dan bisa menimbulkan lonjakan kasus jika diabaikan.
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, Indonesia diharapkan mampu menjaga situasi tetap kondusif tanpa perlu kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar.
Penulis: Anik Kholifatul Imania