Radar Jember – Varian terbaru Covid-19 yang dijuluki Nimbus dengan kode resmi NB.1.8.1 kini menjadi perhatian dunia.
Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per 10 Juni 2025, subvarian ini telah menyebar ke 22 negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, India, dan Indonesia.
Varian ini merupakan turunan dari Omicron yang terus bermutasi.
Para peneliti menyebutkan bahwa NB.1.8.1 memiliki kemampuan menular yang lebih tinggi dibandingkan varian sebelumnya, namun belum ada bukti kuat bahwa ia menyebabkan gejala yang lebih parah.
Di Indonesia, kasus pertama terdeteksi pada seorang pelaku perjalanan internasional yang tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada akhir Mei lalu.
Pemeriksaan lanjutan melalui whole genome sequencing (WGS) mengonfirmasi bahwa pasien tersebut terinfeksi varian Nimbus.
Saat ini, pasien sudah dalam kondisi membaik dan menjalani isolasi di fasilitas kesehatan.
Gejala Covid Mirip Flu Biasa, Tapi Jangan Sepelekan
Gejala umum dari varian Nimbus meliputi:
- Hidung tersumbat atau pilek
- Batuk ringan
- Sakit tenggorokan
- Sakit kepala
- Kelelahan
- Demam ringan
- Nyeri otot
Karena gejalanya mirip dengan flu biasa atau infeksi saluran pernapasan atas, banyak pasien tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi Covid-19.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pelacakan dan pencegahan penyebaran virus.
Menurut dr. Erlina Burhan, spesialis paru dari RSUP Persahabatan, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan meskipun gejalanya tampak ringan.
“Jika mengalami gejala seperti flu lebih dari tiga hari, apalagi setelah kontak dengan orang dari luar kota atau luar negeri, sebaiknya segera lakukan tes antigen atau PCR,” ujarnya.
Upaya Pemerintah dan WHO
WHO telah menetapkan NB.1.8.1 sebagai variant under monitoring ll (varian dalam pengawasan) dan terus mengumpulkan data dari laboratorium di berbagai negara.
Penelitian lebih lanjut sedang dilakukan untuk mengetahui efektivitas vaksin yang ada terhadap varian ini.
Sementara itu, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan kembali menggencarkan imbauan vaksinasi booster, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, penderita komorbid, dan tenaga kesehatan.
Selain itu, pengawasan di pintu masuk internasional diperketat, termasuk kewajiban skrining kesehatan bagi pelancong yang baru tiba.
"Kita tidak ingin lengah meskipun pandemi sudah mereda. Varian ini menjadi pengingat bahwa virus masih terus bermutasi, dan protokol kesehatan tetap penting," kata dr. Siti Nadia Tarmizi, Juru Bicara Kementerian Kesehatan.
Imbauan untuk Masyarakat
Masyarakat diminta untuk tetap:
- Mengenakan masker di tempat umum yang padat
- Mencuci tangan secara rutin
- Menghindari kontak erat jika mengalami gejala flu
- Segera melakukan pemeriksaan jika merasa tidak sehat
Hingga kini, belum ada kebijakan pembatasan aktivitas secara nasional, namun pemerintah daerah diberi kewenangan untuk mengambil langkah cepat jika ditemukan klaster baru.
Dengan terus meningkatkan kesadaran, diharapkan masyarakat dapat membantu mencegah gelombang baru penularan virus, termasuk dari varian Nimbus yang saat ini tengah diawasi ketat secara global.
Penulis: Anik Kholifatul Imania