Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Gen Z Harus Belajar Literasi Keuangan, Ikhlaskan pada Semua yang Terjadi demi Kesehatan Mental

Mega Silvia RJ • Sabtu, 31 Mei 2025 | 14:30 WIB
ANALISA WIDYANINGRUM, Founder Analisa Personality Development Center (APCD). (GESEILA SIRE/RADAR JEMBER)
ANALISA WIDYANINGRUM, Founder Analisa Personality Development Center (APCD). (GESEILA SIRE/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Isu mental health bukan lagi menjadi tren baru di tengah masyarakat.

Semua kalangan mulai membicarakannya.

Di antara mereka juga mulai menyadari keterhubungan dengan dirinya.

Rupanya, generasi zilenial (gen Z) yang paling banyak mengalami burnout (kelelahan menta') dibandingkan generasi lainnya.

Seorang psikologis klinis kelahiran Yogyakarta, Analisa Widyaningrum, mengungkapkan data hasil kajiannya tersebut ketika bertandang dan mengisi materi talk show di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember, Jumat (16/5/2025).

“Level burnout paling tinggi tetap ada di gen Z, kedua milennial, dan yang paling rendah gen X,” ucap penulis buku The Power of Personality Development itu.

Usia tak bisa bohong, dengan bertambahnya usia level burnout semakin rendah, meski stres pekerjaan semakin tinggi.

Tapi, ini menandakan bahwa tingkat kebijaksanaannya bertumbuh.

Lewat pengalaman hidup atau pekerjaan.

Rendahnya kesejahteraan mental milenial ini menurut Analisa karena mereka yang tengah berada pada fase struggling, efisiensi.

Ada yang berada pada fase memiliki cicilan rumah KPR, anak yang mulai masuk sekolah dengan biaya yang cukup tinggi.

Tapi, masih di level menengah, tidak seperti gen Z.

Gen Z mulai berada di fase beradaptasi dengan dunia kerja.

Tapi, bagi gen Z lainnya, tak sekadar itu.

Semua tahu bahwa mereka sejak lahir sudah berhadapan dengan internet.

“Saya rasa menjadi tantangan tersendiri di usia yang sekarang sedang mencari identitas diri di tengah gempuran informasi tanpa batas,” terang perempuan 36 tahun itu.

Mereka mengalami kelelahan mental akibat paparan media sosial yang membuat mereka harus mendapatkan validasi secara sosial.

Fenomena yang kerap disaksikan di dunia maya.

Tak sedikit yang menjadi insecure lantaran membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Perlahan mendegradasi value di tengah pencarian jati dirinya, bahkan kehilangan itu.

Potensinya pun terhadap dan membuat overthinking.

“Dia merasa overthinking karena dia overthinking dan dia stres karena dia stres dan mencari jawabannya sendiri dengan informasi yang belum tentu benar,” ujar Analisa.

Sebagai seorang psikolog, dia berkeyakinan bahwa literasi keuangan bisa membantu memengaruhi kondisi mental gen Z.

Dia menyarankan agar gen Z membuat tujuan-tujuan hidup yang ingin dicapai.

Tentu sesuai nilainya masing-masing.

Plan jangka pendek, menengah, atau panjang harus jelas.

“Yang kedua belajar financial planning,” katanya.

Cash flow keuangannya harus dimanajemen dengan baik jika mau sehat secara mental.

Lantas, pelajaran penting yang harus dimiliki ialah mengikhlaskan pada semua yang terjadi setelah membuat dan mencapai tujuan hidup.

“Jadi, tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin di usia-usia yang sekarang lagi diberi kesempatan untuk produktif,” sarannya. (sil/c2/nur)

 Baca Juga: Tak Sekadar Hafalan, Maknanya pun Dipahami, Siswi Jember Ini hingga Berprestasi dalam Lomba Bahasa Arab tingkat Provinsi

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#financial planning #burnout #overthinking #cash flow #Insecure #mental health #BI Jember #KPwBI