PATRANG, Radar Jember - HIV/AIDS masih menjadi penyakit yang mengkhawatirkan.
Bagaimana tidak, menjelang pergantian tahun, tercatat ada 8.000-an orang Jember yang terdampak. Sebanyak 600 di antaranya adalah penderita baru.
Hal tersebut tentu saja mengkhawatirkan.
Apalagi, ini dapat menular kepada orang lain, sehingga jumlahnya bisa terus bertambah.
Bahkan, tidak semua penderita HIV/AIDS mau melakukan pemeriksaan dan jumlah tersebut masih bisa bertambah lebih banyak lagi.
Potensi penularannya juga bisa semakin meningkat.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember dr Hendro Soelistijono menyampaikan, jumlah kumulatif penderita HIV/AIDS dari 2002 hingga 2024 mencapai kurang lebih delapan ribu orang.
Setiap tahun terus-menerus mengalami peningkatan.
Dengan upaya screening yang dilakukan oleh petugas kesehatan.
“Harapannya kalau ditemukan sejak dini, penderitanya bisa diobati lebih awal,” katanya.
Angka penderita HIV/AIDS yang ditemukan, menurutnya, sama dengan fenomena gunung es.
Hanya sebagian kecil yang bersedia melakukan pemeriksaan.
Sementara, sisanya masih belum bersedia. Mereka dianggap memiliki potensi besar untuk menularkan kepada orang lain.
“Pemeriksaannya butuh persetujuan dari orang yang diduga terdampak. Bayangkan, yang tidak setuju diperiksa lebih banyak lagi pastinya,” imbuhnya.
Oleh sebab itu, bagi calon pengantin yang akan menikah, diwajibkan untuk melakukan screening kesehatan terlebih dahulu.
Untuk memastikan yang bersangkutan tidak menderita HIV/AIDS. Jika dinyatakan positif, maka akan dilakukan tindakan pengobatan.
Agar tidak menular kepada orang lain.
Pria yang akrab disapa dr Hendro itu juga menyebut, rata-rata penderita HIV/AIDS berusia 25 hingga 40 tahun.
Namun, beberapa waktu lalu, ditemukan penderita dengan usia 15 tahun.
Oleh sebab itu, dia mengaku juga mulai melakukan sosialisasi pencegahan di tingkat remaja dan anak sekolah.
“Upaya pencegahannya dalam bentuk edukasi,” tegasnya.
Secara fisik penderita HIV/AIDS sulit untuk diamati pada tahap awal. Biasanya akan diketahui setelah yang bersangkutan melakukan pemeriksaan.
Dia juga menyebut, penderita yang rajin dan teratur mengonsumsi obat biasanya akan sembuh dalam jangka waktu tertentu.
Jika tidak, biasanya penderita akan meninggal dunia.
“Obat tersedia secara gratis. Pemeriksaan juga gratis. Tinggal kesadaran masyarakat aja,” pungkasnya.
Penting diketahui, penularan kasus HIV/AIDS ini bermacam-macam. Mulai dari hubungan seksual bebas, dengan lawan jenis, dan narkoba.
Untuk itu, menghindari semua jalur penularan akan lebih baik sebagai langkah pencegahan. (ham/c2/nur)
Editor : Radar Digital