PATRANG, Radar Jember - Abortus atau lebih dikenal dengan sebutan aborsi bisa terjadi secara tidak sengaja. Kejadian tersebut biasanya dikenal oleh masyarakat umum dengan istilah keguguran.
Kondisi itu bisa terjadi akibat adanya kelainan pada ibu dan bayi dalam kandungan. Karena itu, disarankan untuk melakukan perencanaan kehamilan dengan matang, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.
Dokter spesialis obgyn RSD dr Soebandi Jember, dr Daniel Alexander Suseno SpOG, menjelaskan, aborsi bisa dilakukan dengan usia kehamilan di bawah 20 minggu atau kurang dari lima bulan. Dengan berat janin tidak lebih dari satu kilogram.
Bisa terjadi begitu saja, tanpa tindakan tambahan.
Keguguran dalam dunia medis dikenal dengan istilah abortus spontan. Kejadian itu terjadi akibat kelainan pada janin, hingga kandungan yang lemah. Keadaan tersebut bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Mulai dari ibu kekurangan nutrisi, infeksi, stres, dan kelelahan, hingga pola hidup yang tidak sehat. “Tidak diapa-apakan, terjadi begitu saja memang sudah dari alam. Itu namanya abortus spontan,” terangnya.
Orang yang pernah mengalami keguguran atau abortus spontan masih memiliki kesempatan untuk hamil dan mempunyai anak.
Hal yang menyebabkan sulitnya memiliki keturunan adalah infeksi akibat tindakan aborsi yang dilakukan dengan cara yang tidak tepat. Misalnya penggunaan alat yang tidak steril hingga pemberian obat antibiotik yang terlambat.
Pria yang akrab disapa Dokter Das ini juga menjelaskan, aborsi dapat dilakukan dengan melibatkan tenaga medis atau dikenal dengan abortus provokatus medisinalis.
Serta dengan bantuan tenaga nonmedis atau dilakukan secara mandiri, dengan mengonsumsi obat tertentu atau abortus provokatus kriminalis.
“Kegagalan aborsi dengan mengonsumsi obat dapat menyebabkan kelainan janin, bahkan cacat,” imbuhnya.
Risiko lain yang dapat muncul akibat aborsi yang tidak dilakukan oleh tenaga profesional adalah menyebabkan infeksi, hingga menyebabkan pendarahan. Infeksi tersebut dapat berakibat fatal. Mulai dari sulit untuk memiliki anak akibat tingkat kesuburannya berkurang.
Risiko lainnya akibat infeksi itu adalah kematian, akibat tidak mendapatkan tindakan penanganan yang tepat.
“Biasanya diberikan antibiotik kalau infeksinya parah,” tandasnya. (ham/c2/dwi)
Editor : Radar Digital