Istilah Generasi Strawberry awalnya muncul dari negara Taiwan. Pemilihan buah stroberi untuk penyebutan generasi baru itu tampak indah dan eksotis. Tetapi, begitu dipijak atau ditekan, ia akan mudah sekali hancur.
BANYAKNYA kasus bunuh diri yang dilakukan oleh remaja akhir-akhir ini cukup menghebohkan dunia maya. Pasalnya, tidak sekadar bunuh diri, tetapi mereka telah membuat surat wasiat permohonan maaf dan alasan di balik mereka melakukan bunuh diri.
Beberapa kasus bunuh diri yang baru-baru ini terjadi yakni mahasiswa berinisial NJW, 20, yang ditemukan tewas di Mal Paragon Semarang, Jawa Tengah, pada Selasa (10/10). Kedua, mahasiswa PTS di Semarang, Jawa Tengah, berinisial EN, 24, ditemukan di kamar kosnya pada Rabu (11/10). Terakhir, siswi SMKN di Blitar Jatim berinisial NAN, 16, yang menabrakkan diri ke kereta api.
Menanggapi fenomena itu, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jember (Unej), Dewi Rokhman, mengatakan bahwa kondisi itu cukup memprihatinkan karena mereka dengan gampang mengambil keputusan bunuh diri ketika ada masalah. Menurutnya, remaja tersebut secara mental dan psikologinya ada masalah. “Saya sangat khawatir kondisi yang terjadi sekarang ini para remaja sangat rapuh dan tidak bisa beradaptasi dengan kondisi yang ada,” jelasnya.
Menurutnya, faktor utama yang menyebabkan hal itu terjadi yakni media sosial. Para remaja saat ini akrab dengan sesuatu yang instan. Seperti siapa pun bisa dengan mudah populer di media sosial. Artinya, segala sesuatu seolah-olah mudah didapat dan tidak membutuhkan usaha serta kerja keras lagi. Hal itu menjadikan mental remaja seperti strawberry generation, atau generasi yang rapuh. Dunia media sosial yang bersifat instan itu akan membentuk remaja memiliki mental lemah. “Ketika ada masalah, mereka juga memilih cara instan dengan bunuh diri atau menyakiti diri sendiri,” tutur Dewi.
Peran media saat ini sangat penting dalam memberitakan hal secara seimbang. Jangan sampai informasi yang disampaikan oleh media justru membuat para remaja terinspirasi melakukan hal yang serupa dalam hal perbuatan negatif. Media harus seimbang memberitakan dari berbagai sudut pandang, seperti dari sisi pakar pendidikan dan tokoh agama.
Pendidikan tinggi tidak menjamin seorang generasi sekarang tidak akan melakukan bunuh diri. Menurut Dewi, saat ini kondisi para remaja SD, SMP, SMA, ataupun yang sedang kuliah berada pada kondisi mental yang sangat rapuh atau masuk kategori strawberry generation. Sebab, paparannya sama, mereka terpapar dari dunia daring dan media sosial.
Untuk mencegah perbuatan menyakiti diri sendiri, perlu adanya pendampingan orang tua. Orang tua harus lebih perhatian dan anak harus lebih terbuka lagi. Jika ada masalah apa pun itu, maka anak harus bisa terbuka dan menceritakan masalahnya kepada orang tua atau bisa juga kepada guru ataupun dosen wali yang dimilikinya. (c2/dwi)
Terapkan Manajemen Stres
RAPUHNYA generasi anak muda saat ini, tidak hanya ending-nya tentang bunuh diri. Tapi, juga ada yang merasa tidak mau meneruskan kuliah ataupun sangat berat menjalani tugas-tugas baru di dunia pendidikan.
Seperti cuitan Twitter salah satu mahasiswa semester II yang sempat viral di media sosial seperti Facebook dan Instagram. “Gua anak umur 21, gak nyangka ternyata kuliah itu seburuk itu untuk mental health. Semester 1 kemarin gua udah dihujanin materi sama tugas yang bener2 banyak. Akibatnya waktu gua untuk healing sama self reward jadi kurang banget. Yang tadinya gua masih bisa nonton Netflix sama chat-chat-an. Gua kayaknya belum siap kuliah, deh. Gua udah ngomong ke ortu kalau gua mau cuti dulu semester ini, tapi ortu malah ga setuju. Ortu ga aware sama mental health. Gua mesti gimana....???,” tulisnya.
Pengalaman tentang tugas kuliah yang berat tentu saja dialami setiap mahasiswa baru, termasuk Zal Sabilla Aurezti Nugroho. Menurut mahasiswa semester III Politeknik Keuangan Negara Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PKN STAN) ini, masuk ke kehidupan baru seperti dari SMA ke perguruan tinggi tentu ada perbedaan dan perlu adaptasi. Tugas-tugas pun demikian, pasti ada beratnya.
Dia sendiri tidak begitu stres memikirkan tugas kuliah, terpenting adalah menjalankan. Namun, beberapa temannya pernah mengalami stres. “Teman ada, sih, sampai menangis. Padahal masalah sepele, yaitu mikirin tugas. Kebanyakan stres karena tugas itu, karena ingin tugasnya itu perfect, tapi banyak mikirnya daripada action-nya,” terangnya.
Menurut alumnus SMAN 1 Jember itu, agar terhindar dari generasi stroberi, harus bisa manajemen stres. “Misal sibuk kuliah, harus tahu kapan istirahat dan kerja. Kalau aku kerjakan dulu yang urgent. Teori Podomoro, belajar 25 menit dan istirahat 5 menit tidak hanya dilakukan saat belajar saja. Kehidupan sehari-hari juga, agar bisa mengelola stres dengan baik,” terangnya.
Perempuan asal Sumbersari, Jember, itu merasa, keberadaan media sosial juga berpengaruh terhadap lembeknya generasi muda saat ini. “Postingan di medsos itu kehidupan yang perfect. Agar tidak terpengaruh seperti itu, maka anak muda itu perlu memahami kondisi diri sendiri dan keluarga,” tuturnya. (c2/dwi)
Editor : Radar Digital