Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Stop Konsumsi Mie Instan Pemicu Kanker

Safitri • Kamis, 27 April 2023 | 16:29 WIB
BELUM KLIR: Demi keselamatan, untuk sementara waktu stop mengonsumsi salah satu mie instan karena bumbunya diduga mengandung zat pemicu kanker.
BELUM KLIR: Demi keselamatan, untuk sementara waktu stop mengonsumsi salah satu mie instan karena bumbunya diduga mengandung zat pemicu kanker.
KALIWATES, Radar Jember – Untuk sementara waktu, warga diimbau untuk tidak menjual, membeli, atau mengonsumsi salah satu mie instan. Mie ini ramai diperbincangkan setelah ada penelitian dan dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Taiwan yang menemukan adanya kandungan etilen oksida atau penyebab kanker dalam bumbu mie tersebut.

BACA JUGA : Tetap Adakan Halal Bihalal Meski Tak Dihadiri Bupati Serta Wabup

Temuan zat dalam bumbu yang diduga bisa menjadi pemicu kanker tersebut, hingga berita ini ditulis masih menjadi pembahasan oleh sejumlah pihak berwenang. Terutama oleh pemerintah pusat. Demi keamanan, untuk sementara waktu sebaiknya tidak menjual, membeli, maupun mengonsumsi salah satu mie instan karena kandungannya belum klir. Apalagi berbahaya atau tidak, belum ada keputusan resmi pemerintah.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Jember Dwi Handarisasi menyatakan, bahwa etilen oksida dapat memicu kanker pada tubuh, apabila dikonsumsi manusia secara terus-menerus. Dia mengungkapkan, zat tersebut sama sekali tidak boleh ada di dalam suatu olahan makanan. Sehingga, tidak ada ketentuan batas toleran atau ambang batasnya. Dikatakan, sifatnya bisa meracuni tubuh. "Ya memang etilen oksida itu tidak boleh ada pada makanan kemasan," terang Dwi kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin (26/4).

Dinkes Jember memberikan imbauan kepada masyarakat, khususnya pedagang atau retail agar tidak menjual mie yang diduga memicu kanker itu untuk sementara waktu. Namun imbauan tersebut belum dikeluarkan secara resmi oleh pemerintah pusat maupun BPOM. "Kami masih menunggu info BPOM karena bukan kewenangan kami," tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Jember Bambang Saputro juga memberikan statement serupa. Pihaknya mengaku tidak memiliki kewenangan untuk melakukan penarikan produk. "Kewenangan ada di BPOM ya," katanya.

Menurut Bambang, hasil penelitian yang didapat oleh peneliti asal Taiwan tidak bisa ditelan mentah-mentah. Butuh penelitian ulang yang dilakukan untuk produk salah satu mie yang ada di Indonesia. Ini, tambahnya, merupakan bagian dari pembuktian tentang pemahaman isu yang sedang beredar. Pembuktian itulah yang menurutnya menjadi kewenangan BPOM untuk menindaklanjuti.

Meski demikian, Disperindag mengaku siap apabila dibutuhkan untuk bergabung dalam tindak lanjut isu tersebut di bawah koordinasi BPOM. Dia menjelaskan bahwa pihak BPOM sedang melakukan penelusuran dan akan segera meneruskan informasi yang diperoleh kepada media dan publik.



Loka POM Jember Tunggu Petunjuk

Dugaan adanya zat pemicu kanker dalam bumbu produk salah satu mie instan memang belum klir. Loka Pengawas Obat dan Makanan (POM) Jember masih menunggu instruksi dari pusat untuk melakukan tindakan.

Analisa Pemeriksa Sarana dan Prasarana Loka POM Jember, Eko Agus Budi Darmawan menjelaskan, pihaknya saat ini masih belum bisa memberikan komentar terkait pernyataan yang beredar mengenai mie instan tersebut. “Tanggapan dari kami selaku BPOM Jember akan secepatnya disampaikan kepada publik,” jelasnya.

Saat ini, pihaknya sedang melakukan penelusuran dan inten berkomunikasi dengan pihak pusat untuk menindaklanjuti temuan tersebut. Sementara klarifikasi dan penjelasan resmi perihal pernyataan dari Departemen Kesehatan Taiwan masih belum bisa ditanggapi. “Saat ini masih dibahas di BPOM pusat. Jadi kami tinggal menunggu langkah taktis selanjutnya,” terangnya.

Salah satu mahasiswa Jember, Chairil Anwar menyebutkan, dirinya kaget saat mendengar informasi bahwa mie kesukaannya diduga mengandung zat yang menyebabkan kanker. “Saya cukup kaget mendengar pernyataan tersebut, karena saya sering mengonsumsi mie itu,” ujarnya.

Mahasiswa yang tinggal di Kelurahan Mangli itu mengaku terbiasa mengonsumsi mie instan setiap harinya. Hal itu karena penyajiannya yang instan dan harganya yang relatif murah membuatnya menyukai makanan tersebut. “Kebetulan saya menyukai yang rasa itu,” ujarnya. (sil/faq/nur) Editor : Safitri
#Jember #mie instan #Kanker