Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jangan Tergesa Beri Obat Penurun Panas

Safitri • Rabu, 26 Oktober 2022 | 21:00 WIB
ANTUSIAS: Pengurus OSIS SMAN dan SMKN saat bertanya dalam sosialisasi pemilu untuk para pemilih pemula, kemarin (4/11).
ANTUSIAS: Pengurus OSIS SMAN dan SMKN saat bertanya dalam sosialisasi pemilu untuk para pemilih pemula, kemarin (4/11).
GEBANG, Radar Jember – Penyebab Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) sampai saat ini masih belum ditemukan apa penyebabnya. Menunggu hasil penyebab dari gagal ganjal akut ini. Diharapkan para orang tua dapat mengambil pelajaran untuk lebih tidak cepat-cepat memutuskan minum obat kepada anaknya yang demam.

BACA JUGA : Waspada Ancaman Krisis Pangan Dunia, 11 Komoditas Pertanian Jadi Perhatian

Dokter spesialis anak RS Citra Husada dr Ririn Esterina, Sp.A mengatakan, penyakit gagal ginjal dibagi menjadi dua jenis yakni akut dan kronis. Penyakit ginjal akut, kata dia, dibagi menjadi tiga.

Untuk GGAPA yang misterius sekarang ini masih belum diketahui penyebabnya apa. “Penyebabnya apa masih belum jelas,  hanya saat ini menghindari obat yang mengandung etilen glikol dan dietilen glikol,” jelasnya.

Gejala klinis untuk penyakit GGAPA yang sekarang ini yakni usianya kurang dari 18 tahun. Disertai demam, infeksi pada gangguan infeksi pernafasan seperti batuk pilek, gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare. “Yang paling identik dengan gejala GGAPA adalah tidak ada produksi urine selama 12 jam sama sekali. Bisa tidak kencing atau produksi kencingnya sangat minimal. Jadi ini ciri-cirinya, patut untuk di curigai,” tuturnya.

Dari kasus GGAPA pada anak menjadi pelajaran yang bisa diambil. Yaitu ketika anak demam, jangan langsung memberikan obat. Cara yang bisa dilakukan yakni ukur suhunya. Sedangkan permasalahan saat ini yakni sebagian besar masyarakat tidak punya alat ukur.

Jelasnya lagi, ambang batas panas tidak normal yakni 28 derajat celcius ke atas. Perlakuan selanjutnya, kata dia, ketika anak mengalami demam untuk mengkompres dan tidak perlu diberi baju yang tebal. “Cukup pakai pakaian yang tipis dan longgar,” terangnya.

Ketika anak masih minum air susu ibu (ASI), Ririn menambahkan, agar terus diberikan ASI agar tidak dehidrasi. Selanjutnya, buat suhu lingkungan yang sama sebelum anak itu sakit. “Jika sebelum sakit suhu lingkungan atau ruangan memakai AC atau kipas angin. Maka, jangan dimatikan,” terangnya.

Setelah semua ini dilakukan, tapi masih saja anak itu demam. Maka, bisa berikan obat penurunan panas. “Tapi tetap dengan resep dokter. Ini pelajaran penting agar tidak langsung memberikan obat saat demam,” ucapnya

Kasus GGAPA ini banyak terjadi pada anak-anak, karena konsumen obat sirup paling banyak adalah anak-anak. Sedangkan dalam kasus GGAPA, permasalahannya ada di campuran pada obat sirup yang memiliki kandungan penurun panas. Yaitu etilen glikol dan dietilen glikol. (mg3/c1/dwi)

  Editor : Safitri
#Jember #Anak #demam