Suka Mager Membuat Jantung Tak Sehat

Safitri • Dipublikasikan Jumat, 14 Oktober 2022 | 19:26 WIB
INGIN SEHAT: Pasien saat menunggu antrean ke Poli Jantung RS Paru Jember.
INGIN SEHAT: Pasien saat menunggu antrean ke Poli Jantung RS Paru Jember.
JEMBER LOR, Radar Jember – Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab tingkat kematian tertinggi di Indonesia, bahkan di dunia. Sepanjang tahun 2021, terdapat 12,9 juta kasus penyakit jantung di Indonesia. Tingginya angka pengidap penyakit jantung itu sejalan dengan tingginya biaya penanganan dan pengobatan yang ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan).

BACA JUGA : Hanya 10 Persen Pekerja yang Terlindungi Jaminan Ketenagakerjaan

Berdasarkan data Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan Kementerian Kesehatan, penanganan dan pengobatan penyakit jantung di Indonesia pada tahun 2021 mencapai Rp 8,6 triliun. Penyakit ini berada pada posisi menghabiskan anggaran terbanyak pertama, disusul oleh kanker. Dari 12, 9 juta kasus penyakit jantung yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan, rata-rata biaya penanganan per kasus sebesar Rp 670,4 ribu.

Dokter spesialis jantung RS Paru, dr Ratna Pancasari SpJP, mengatakan, sampai sekarang memang penyakit jantung masih menjadi pemimpin penyebab kematian di Indonesia, juga di dunia. Penyakit jantung yang paling banyak menyebabkan kematian adalah jatnung koroner. “Atau orang biasa sebut serangan jantung,” jelasnya.

Sampai saat ini angka pengidap jantung koroner tersebut masih tinggi. Faktor pemicunya adalah obesitas, hipertensi, diabetes, kolesterol, dan dari keturunan juga berperan besar. “Itulah beberapa faktor risiko yang banyak menyebabkan serangan jantung,” ucap dia.

Bagi kebanyakan orang, penyakit jantung merupakan penyakit yang sangat menakutkan. Hal itu juga tidak diimbangi dengan gaya hidup yang sehat. Saat ini banyak sekali dijumpai makanan cepat saji, life style yang malas bergerak atau mager di kalangan anak muda. “Hal seperti inilah yang membuat kesehatan jantung itu jelek,” urainya.

Dengan adanya kasus yang tinggi itu, sebenarnya sudah menjadi fokus program kesehatan nasional dan sudah difokuskan pada masalah jantung. Ratna menjelaskan, peran promosi edukasi kepada masyarakat untuk mencintai dan lebih peduli lagi kepada jantungnya perlu ditingkatkan lagi. “Masyarakat harus lebih peduli dengan kesehatan jantung dengan pemeriksaan dini untuk mengurangi risiko jantung. Hal itu dilakukan supaya tidak jatuh ke serangan jantung. Terutama kepada usia di atas 40 tahun, perlu untuk check up,” pungkasnya. (mg3/c2/dwi)

  Editor : Safitri
mager Jember jantung