Dinas Kesehatan Kabupaten Jember mencatat, tingginya angka pernikahan dini masih menjadi penyumbang terbesar dalam banyaknya AKI dan AKB di Jember. Kendati demikian, pihak dinkes juga menyebutkan, faktor pendidikan serta faktor penyakit menjadi pendukung di balik tingginya angka kematian ibu dan bayi.
“Kalau melihat permasalahan kematian ibu dan bayi ini, sebenarnya menjadi sebuah lingkaran yang butuh penyelesaian bersama. Tidak hanya dari dinkes, tetapi dari seluruh elemen masyarakat,” ungkap Dwi Handarisasi, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Jember saat ditemui, Senin (3/10) siang.
BACA JUGA: Dukung Pencegahan AKI-AKB, Empat Puskesmas di Jember Dapat Fasilitas USG
AKI dan AKB menjadi salah satu indikator pembangunan suatu daerah. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
Dwi memaparkan, beberapa upaya yang dilakukan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, khususnya di Kabupaten Jember, salah satunya adalah menyiapkan generasi muda atau calon pengantin untuk memahami dirinya sendiri. Dengan harapan mereka mengetahui kondisi masing-masing.
Bekerjasama dengan Kantor Urusan Agama (KUA) yang nantinya memberikan pembekalan dan pembinaan terhadap para calon pengantin. Harapannya, mereka memiliki pandangan terhadap kesehatan pra dan pascamenikah. Selain itu, pihak dinkes juga memberikan tablet tambah darah pada remaja putri untuk memelihara kesehatan.
Tak berhenti di situ, dinkes juga bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember dalam pelaksaan penanganan stunting. Langkah ini untuk menekan angka kematian pada bayi yang dimulai, bahkan sebelum masa kehamilan.
Hal-hal di atas dilakukan untuk mempersiapkan generasi prima, sehingga angka kematian ibu dan bayi dapat ditekan.
Dwi juga berpesan, terdapat 4T yang harus diperhatikan oleh semua pihak untuk menekan angka kematian ibu dan bayi. Terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak anak, serta terlalu sering atau jarak kelahiran terlalu dekat. Juga yang paling utama adalah menjaga pola konsumsi agar status gizi dan kesehatan ibu terjaga.
Per Oktober 2022 ini saja sudah terdapat 49 kasus kematian ibu dan bayi di Jember. Jumlah ini sama dengan kasus satu tahun pada 2019 lalu. dinas kesehatan berharap angka ini tidak bertambah, sehingga angka AKI dan AKB tahun ini menurun.
“Harapannya tahun ini semoga bisa turun. Dengan kerjasama dan kesadaran dari semua pihak pastinya. Ibu hamil dan bayi ini kelompok rentan yang memerlukan perhatian, serta kepedulian lebih,” pungkasnya. (*)
Foto : Dwi Sugesti Mega untuk Radar Jember
Editor: Mahrus Sholih Editor : Maulana Ijal