Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ibu Rumah Tangga Beresiko Terkena HIV

Safitri • Rabu, 31 Agustus 2022 | 21:22 WIB
freepik.com
freepik.com
SUMBERSARI, Radar Jember – Akumulasi data setiap tahun mengenai orang yang mengalami human immunodeficiency virus (HIV) pasti meningkat. Korban utama dari virus ini yakni adalah ibu rumah tangga (IRT).

BACA JUGA : Atasi Stunting, Indonesia Bakal Perbanyak Varietas Padi Bernutrisi

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember (Unej), Dewi Rokhmah, mengatakan, kondisi demikian menjadi tantangan dalam mengedukasi masyarakat. “Ibunya dan suami juga perlu diedukasi,” jelasnya.

Ia menjelaskan, sebenarnya dari dulu ibu rumah tangga di Jember selalu masuk urutan pertama pengidap HIV. Dia menuturkan, IRT yang mengidap HIV kemungkinan besar tertular dari suaminya.

Selama ini IRT yang positif HIV adalah mereka yang bukan pekerja seks komersial, pengguna obat, dan tidak memiliki perilaku berisiko, tapi mereka positif karena tertular dari suami. “Suami yang menularkan HIV itu biasanya kerja di luar pulau, yang pulang mungkin enam bulan sekali. Nah, ketika mereka merantau, posisinya suami melakukan transaksi seksual dengan wanita pekerja. Penularannya terjadi dari suami ke istri, dengan posisi istri melayani suami. Kasihan ibu-ibu yang tidak tahu apa-apa,” ujarnya.

Lantaran banyaknya IRT positif HIV, perlu edukasi demi mengurangi risiko penularan kepada anak. “Makanya orang yang positif HIV, terutama ibu yang hamil, ada program sendiri agar tidak menular kepada sang bayi,” ucapnya.

Sampai hari ini stigma terkait HIV itu belum hilang. Orang yang mengidap HIV dianggap orang yang nakal, sering ganti-ganti pasangan, orang yang memiliki kekasih lebih dari satu, dan sebagainya. “Padahal kan tidak semua seperti itu,” terangnya.

Selain itu, ketika stigma itu dilabelkan kepada orang yang positif, semua orang yang positif akan dianggap tidak bermoral, melanggar aturan agama, dan sebagainya. Stigma inilah yang menyebabkan masyarakat dan ibu-ibu takut ketika positif diketahui orang. Sebab, ketika sudah positif, informasi tidak akan terkendali sehingga muncul diskriminasi dan dikucilkan. “Ini yang menjadi kendala masyarakat awam takut dan enggan untuk diperiksa. Termasuk dari masyarakat desa yang mereka secara pengetahuan dan akses informasi itu sulit,” jelasnya.

Hal yang selalu Dewi lakukan yakni sosialisasi dan edukasi kepada ibu-ibu pengajian, arisan, dan perkumpulan lainnya. “Kami ceritakan apa itu HIV, risikonya apa, ketika suami misalkan kerja di luar kota kita harus bagaimana. Kami terus edukasi. Harapannya ibu rumah tangga bisa mencegah HIV,” ujarnya.

HIV hingga kini belum ada obatnya. Ketika sudah masuk AIDS, kemungkinan untuk selamat kecil, karena akan menyerang kesehatan tubuh. “Akses layanan sudah digratiskan. Kadang kami menjemput penderita HIV, tapi mereka enggan karena takut orang tahu. Jadi, kompleks ketika berbicara HIV. Terutama korban yang di desa. Padahal sudah digratiskan, tapi tidak mudah membawa mereka,” pungkasnya. (mg3/c2/dwi) Editor : Safitri
#Jember #hiv