BACA JUGA : Operasi Senyap Tertibkan Pekerja Seks Komersial di Kawasan Lumajang
Seperti dialami dr Dian Alfiatul Uliyah. Perempuan itu merupakan Kepala Puskesmas Sumbersari. Dia juga merupakan dokter umum dan satu-satunya di puskesmas tempatnya bekerja. Alhasil, manajemen pengaturan puskesmas harus dipikirkan, sekaligus memberikan layanan optimal kepada pasien karena dirinya seorang dokter.
Dian merupakan alumnus Fakultas Kedokteran Unej. Dirinya dilantik menjadi dokter pada tahun 2010. Sebelum menjadi kepala puskesmas di Sumbersari, dirinya sempat menjabat kepala puskesmas dua kali di tempat berbeda dan tetap menjadi dokter umum. Pertama saat dirinya berusia 29 tahun atau di tahun 2015 lalu, menjadi Kepala Puskesmas Curahnongko. Selanjutnya, pada 2020 menjadi Kepala Puskesmas Silo. “Sejak Juni kemarin sampai sekarang menjadi Kepala Puskesmas Sumbersari,” tuturnya.
Dikatakan, meski harus menjadi kepala puskesmas dan menjadi dokter umum, dirinya tetap menjalankan dengan penuh tanggung jawab. Dia berprinsip untuk tidak menunda pekerjaan, sehingga hal yang ada di depan harus segera diselesaikan sebaik-baiknya.
Pagi hari, Dian bertugas melaksanakan kewajibannya sebagai dokter umum seperti melakukan pelayanan visitasi kepada pasien rawat inap, ke poli, USG, dan lain-lain. “Kalau di sini, karena dokter umumnya satu, tidak mungkin saya melayani semuanya. Jadi, di sini ada namanya pendelegasian wewenang. Kalau di Poli KAI yang membantu saya bidan, kalau di Poli Umum ada internship dan perawat,” jelas dokter yang diangkat menjadi PNS pada tahun 2014 itu.
Menurutnya, jika ada ibu hamil di Poli KAI bermasalah, maka dikonsultasikan kepadanya. “Karena memang terbatas, kalau saya stay dari pagi sampai siang kan tidak mungkin. Jadi, saya sih mikirnya kalau kerja, pekerjaan apa pun yang ada di depan saat itu saya harus lakukan dengan baik. Saya tidak mau memikirkan yang nanti,” tutur ibu tiga anak itu.
Setelah selesai memberikan pelayanan, dia mengerjakan tugas manajemen sebagai kepala puskesmas. Menurutnya, jika mengerjakan pekerjaan dokter dan mengerjakan manajemen bersama-sama akan sulit dan keduanya bisa tidak selesai. “Bagaimanapun dokter itu harus fokus (saat tugas menjadi dokter, Red). Kalau profesi saat itu sedang menjadi kepala puskesmas, ya sudah harus fokus, karena tugas kepala puskesmas manajemen. Jadi manajerial, mengatur staf, membuat kebijakan, dan lainnya,” ucapnya.
Ketika ada pasien gawat darurat, maka petugas pendelegasian berkonsultasi melalui telefon. Ia menyampaikan bahwa perawat sudah terlatih untuk itu. Walaupun via telepon, perawat bisa melakukan itu. “Kebetulan Sumbersari ini kan di tengah kota, mau ke rumah sakit tidak jauh. Jadi, jika ada pasien gawat darurat, memang di puskesmas itu hanya menstabilkan kondisinya saja, kemudian dirujuk,” jelasnya.
Lebih jauh, tanggung jawab menjadi dokter tak hanya saat jam kerja. Selepas jam kerja, konsultasi via telepon juga dilakukan. “Jadi, kalau ada yang gawat darurat, langsung konsultasi dengan saya. Jadi, HP benar-benar tidak bisa mati 24 jam 7 hari. Sakit pun itu tetap harus stand by, maupun ada acara keluarga harus tetap stand by dengan telepon,” ujarnya.
Sebagai dokter, apalagi sebagai kepala puskesmas, memang harus berkomitmen untuk bisa dihubungi selama 24 jam. Layanan kesehatan masyarakat atau pasien menurutnya di atas segalanya. “Tidak dibikin berat sih. Kalau saya mikirnya, semakin bermanfaat untuk orang lain itu semakin baik. Sebagaimana bisa memberikan manfaat untuk orang lain, mungkin kembalinya tidak ke kita langsung, tapi nanti ada saja. Saya selalu percaya itu,” tutupnya. (mg3/c2/nur)
Editor : Safitri