Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

MERDEKA! Untuk Petugas Medis Sang Garda Depan Melawan Covid-19

Safitri • Selasa, 17 Agustus 2021 | 16:01 WIB
Photo
Photo
UMBULSARI, RADARJEMBER.ID – Pahlawan masa kini tak lagi berjuang melawan penjajah dan memakai baju zirah. Namun, mereka berjuang melawan wabah dan menggunakan baju hazmat yang bisa bikin gerah. Ya, mereka adalah petugas medis yang berada di garis depan merawat pasien Covid-19. Tentu saja, mereka juga manusia biasa. Rasa cemas tertular tetap saja ada. Bahkan, juga merasakan rindu kehangatan keluarga. Sebab, demi menjalankan tugas kemanusiaan itu, mereka sampai jarang pulang.

Ilham Mubarak, misalnya. Perawat di Puskesmas Umbulsari ini mengaku kerap merasakan H2C alias harap-harap cemas saat lepas piket. “Saya takut bawa virus ke rumah,” ungkapnya. Jadi, prosedur pembersihan diri yang ketat selalu dia upayakan sebelum memeluk dan memanjakan anak istrinya.

Tugasnya menjadi tracer bukanlah hal mudah. Sebagai tenaga kesehatan yang kerap melakukan tracing terhadap kontak erat pasien Covid-19, tentu saja potensi tertular cukup tinggi. Selain rentan terpapar, waktu berkumpul dengan keluarganya jelas berkurang. Sebab, dia harus menggantikan petugas medis lain yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman). Bahkan, kerap ikut menguburkan pasien yang meninggal karena Covid-19.

Beruntung, istrinya sangat memahami bahwa hal itu adalah tugas untuk menyelamatkan banyak orang. Demi kemanusiaan. “Untungnya juga, anak saya yang berusia 2,5 tahun luar biasa. Ketika sedang kangen, dia meminta ibunya menelpon via WhatsApp. Biasanya sekadar menanyakan saya sedang apa, dan sekaligus memberikan semangat,” ujar pria 30 tahun itu.

Tak jauh berbeda, dr Angga Mardro Raharjo, dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi, juga mengalami hal serupa. Dia sempat dikomplain oleh anak dan istrinya karena kerja yang dilakukan tak mengenal waktu. Bahkan, jika bisa memilih, keluarga ingin Angga hanya menangani kasus paru-paru biasa seperti spesialisasinya, bukan pasien Covid-19. “Alasannya karena waktu hingga kekhawatiran tertular saat menangani pasien Covid-19,” ujarnya.

Namun, mau bagaimana lagi. Tugas yang dia emban adalah demi keselamatan banyak orang. Sebab, misi yang dia emban tak hanya menyembuhkan pasien, tapi juga turut membantu pemerintah menghentikan wabah. “Alhamdulillah, lambat laun mereka mulai menerima dan terus memberikan semangat,” ulasnya.

Karena itu, dirinya sangat disiplin menerapkan protokol kesehatan saat berada di rumah. Termasuk kepada pembantunya. Meski begitu, cobaan tetap menerpa keluarganya. Pandemi gelombang kedua menulari seluruh keluarganya. Itu membuat pikiran seluruh keluarganya tak karuan. Sampai-sampai sesama anggota keluarga sempat saling berpamitan karena takut tidak bisa selamat. “Jadi, saya taat prokes di luar, tapi malah ketularan pembantu,” ungkapnya.

Beruntung, Tuhan masih menyayangi keluarga Dokter Angga. Akhirnya, satu keluarga sembuh dan dinyatakan negatif Covid-19 setelah menjalani isoman beberapa hari. Dia pun menegaskan, kini musuh bangsa ini bukan lagi penjajah, tapi virus korona dengan segala ancaman dan efek domino yang menyertainya. Sebab, virus itu telah merusak sendi-sendi kehidupan. Tak hanya kesehatan, tapi juga perekonomian, hubungan sosial, pendidikan, hingga peribadatan. “Bismillah! Mari kita anggap perjuangan melawan Covid-19 ini sebagai jihad fii sabilillah,” tandasnya.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Grafis reza
Redaktur : Mahrus Sholih Editor : Safitri
#Jember #Headline